RANGKUMAN MATERI SOSIOLOGI

 

INTERAKSI SOSIAL

Pengertian

  • Interaksi      : Saling mempengaruhi atau hubungan timbal balik.
  • Interaksi Sosial

                        : hubungan sosial atau hubungan timbal balik berupa aksi saling mempengaruhi antara individu dengan individu, antar individu dengan kelompok atau antara kelompok dengan kelompok.

Syarat-syarat Interaksi Sosial

  1. a.     Adanya kontak sosial

Kontak sosial adalah hubungan antara satu pihak dengan pihak lain yang merupakan awal terjadinya interaksi sosial, dan masing-masing pihak saling bereaksi antara satu dengan yang lain meski tidak harus bersentuhan secara fisik.

~         Jenis kontak sosial

  • Menurut cara pihak-pihak yang berkomunikasi
  1. Kontak langsung

Yaitu apabila pihak kominikator menyampaikan pesannya secara langsung kepada pihak komunikan, baik tatap muka maupun melalui alat bantu media komunikasi.

Contoh : jabat tangan, pidato, telepon

  1.  Kontak tidak langsung

Yaitu apabila pihak komunikator menyampaikan pesannya kepada pihak komunikan melalui perantaraan pihak ketiga.

Contoh : – Andi mengucapkan selamat ulang tahun kepada Soni melalui Anton.

  • Menurut proses terjadinya :

1)     Kontak primer

Terjadi bila komunikator menyampaikan pesan kepada komunikan secara langsung melalui tatap muka.

2)     Kontak sekunder

Kontak social yang terjadi melalui pihak ketiga atau media komunikasi

  1. Kontak sekunder langsung. Misalnya, melalui telepon
  2. Kontak sekunder tidak langsung. Misalnya melalui pihak ke tiga atau perantara.
  • Menurut Bentuk / Wujudnya :

1)     Kontak antar individu

2)     Kontak  antar kelompok

3)     Kontak antara individu dengan kelompok

 

  1. b.    Adanya komunikasi

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan ( perasaan, tanggapan ) antara satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhui diantara keduanya.

~         Jenis  sifat komunikasi

*          Bersikap positif

Apabila pelaku saling memahami maksud dan tujuan pihak lain dalam komunikasi mereka.

*          Bersikap negatif

Apabila pelaku ( komunikan ) tidak memahami maksud dan tujuannya.

            Komponen komunikasi :

–       Pengirim atau komunikator / sender

–       Penerima atau komunikan / receiver

–       Pesan / messege : isi/ maksud yang akan disampaikan

–       Umpan Balik / feedback : tanggapan dari penerima pesan

      Ciri-ciri interaksi sosial :

  1. Jumlah pelaku lebih dari satu orang
  2. Terjadi komunikasi diantara pelaku melalui kontak sosial
  3. Mempunyai maksud dan tujuan yang jelas
  4. Berpedoman pada kaidah dan norma yang berlaku
  5. Bersifat timbal balik, cenderung positif, dan berkesinambungan

F Proses Interaksi Sosial

Proses interaksi sosial dapat terjadi apabila :

  1. 1.     Adanya pelaku interaksi sosial lebih dari satu orang
  2. 2.     Adanya komunikasi sosial yang jelas antara para pelaku yang menggunakan simbol-simbol yang jelas seperti isyarat, roman muka, tindakan dan percakapan
  3. 3.     Adanya dimensi waktu yang meliputi masa lampau, masa kini, maupun masa depan yang memperlihatkan corak dari proses interaksi sosial yang sedang berlangsung.
  4. 4.     Adanya tujuan tertentu yang ingin dicapai oleh orang-orang yang berinteraksi sosial

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial :

  1. Imitasi

Adalah tindakan sosial meniru sikap, tindakan, tingkah laku atau penampilan fisik seseorang secara berlebihan.

  1. Sugesti

Adalah pemberian pengaruh atau pandangan dari satu pihak kepada pihak lain. Akibatnya pihak yang dipengaruhi akan tergerak mengikuti pengaruh/ pandangan tersebut dan menerimanya secara sadar atau tidak sadar tanpa berpikir panjang. (Biasanya dilakukan oleh orang yang mempunyai karisma, berkedudukan tinggi, kelompok mayoritas atau iklan di media massa).

  1. Identifikasi

Adalah kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Sasarannya adalah orang yang diidolakan. Identifikasi merupakan bentuk lebih lanjut dari proses imitasi dan sugesti.

  1. Simpati

Adalah proses dimana seseorang merasa tertarik kepada orang lain.

  1. Empati

Merupakan bentuk simpati yang mendalam yang dapat mempengaruhi kejiwaan serta fisik seseorang. Misalnya, seorang yang berempati terhadap saudaranya yang mengalami kecelakaan, orang tersebut merasa seolah-olah mengalami sendiri peristiwa tersebut sampai jatuh sakit.

  1. Motivasi

Adalah dorongan, rangsangan, pengaruh atau stimulus yang diberikan seseorang kepada orang lain sehingga orang tersebut melaksanakan apa yang dimotivasikan.

 

Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

  1. a.     Bersifat asosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk-bentuk persatuan atau integrasi sosial.

Interaksi sosial yang bersifat asosiatif meliputi :

1)     Kerjasama ( Cooperation )

Yaitu usaha bersama antara orang atau kelompok dalam rangka mencapai tujuan bersama.

*          Bentuk-bentuk kerja sama ( James D. Thomson dan William J. MC. Ewen )

  1. Kerukunan      : Gotong royong dan tolong menolong
    1. Bargaining     : Perjanjian pertukaran barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih.
    2. Kooptasi        : Proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan sebuah organisasi
    3. Koalisi           : Gabungan dua badan atau lebih yang mempunyai tujuan sama
    4. Joint Venture  : Kerja sama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu.

*          Kerja sama juga dapat dibedakan menjadi

  1. Spontan ( Spontaneus cooperation ) : Kerjasama yang timbul serta merta atau spontan
  2. Langsung ( Directed cooperation ) : Kerjasama yang terjadi karena perintah atasan atau penguasa.
  3.  Kontrak ( Contractual cooperation ) : Kerjasama berlangsung atas dasar ketentuan tertentu yang disepakati bersama untuk jangka tertentu.
  4. Tradisional ( Traditional cooperation ) : Kerja sama yang terbentuk karena adanya sistem tradisi sebagai bagian dari sistem sosial.

2)     Akomodasi ( Acomodation )

Yaitu suatu proses sosial untuk meredakan pertentangan / konflik.

Ä  Tujuan akomodasi

  1. Mengurangi pertentangan
  2. Mencegah meledaknya pertentangan
  3. Memungkinkan terjadinya kerja sama
  4. Mengusahakan terjadinya asimilasi

Ä  Bentuk akomodasi

  1. Coercion/ koersi   : akomodasi secara paksaan
  2. Kompromi : akomodasi dengan cara saling mengurangi tuntutan
  3. Arbitrasi : akomodasi melalui pihak ketiga yang ikut menentukan keputusan / berwenang.
  4. Konsiliasi : akomodasi yang mempertemukan pihak yang bertikai dalam perundingan untuk mencapai kesepakatan.
  5. Toleransi : sikap saling menghargai dan menghormati pendirian masing-masing pihak
  6. Stalemate : pihak-pihak yang bertikai mempunyai kekuatan seimbang ( tidak ada yang kalah dan yang menang ), sehingga konflik keduanya akan berhenti sendiri.
  7. Mediasi : akomodasi yang menghadirkan pihak ketiga namun hanya sebagai penengah dan tidak mempunyai wewenang untuk memberi keputusan penyelesaian.
    1. Ajudikasi : penyelesaian konflik melalui pengadilan ( jalur hukum )
      1. Segregasi : upaya untuk saling memisahkan diri dan saling menghindar antar pihak yang bertentangan dalam rangka mengurangi ketegangan
  8. Gencatan senjata : menangguhkan permusuhan dalam jangka waktu tertentu.
  9. Dispasement : usaha mengakhiri konflik dengan mengalihkan pada obyek masing-masing
  10. Segregasi : masing-masing pihak yang berkonflik saling menghindar / memisahkan diri untuk mengurangi ketegangan. 

 

 

 

 

3)     Asimilasi

Yaitu suatu proses sosial yang timbul bila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling berinteraksi secara intensif dalam waktu lama, sehingga kebudayaan masing-masing golongan berubah sifat menjadi kebudayaan baru dan berbeda dari asalnya.

Proses/ syarat asimilasi :

  1. Terdapat beberapa kelompok yang memiliki kebudayaan berbeda
  2. Terjadi pergaulan antar kelompok secara intensif dalam waktu yang relatif lama
  3. Kebudayaan masing-masing kelompok itu saling berubah dan menyesuaikan diri

 

☻      Faktor yang mempermudah terjadinya asimilasi

  1. Toleransi 
  2. Kemungkinan yang sama dibidang ekonomi
  3. Perkawinan campuran ( amalgamasi )
  4. Adanya sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya
  5. Sikap terbuka dari golongan penguasa
  6. Persamaan dalam unsur kebudayaan
  7. Adanya musuh bersama dari luar

☻      Faktor yang menghambat asimilasi

  1. Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi
  2. Sifat takut terhadap kekuatan dari kebudayaan lain
  3. Perasaan lebih tinggi ( Superioritas ) suatu kebudayaan terhadap kebudayaan lain.

4)     Akulturasi

Yaitu proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok masyarakat dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan tanpa menghilangkan sifat khas kepribadian budaya asalnya. 

 

  1. b.    Bersifat disosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk-bentuk pertentangan atau konflik

1)     Persaingan

Yaitu suatu perjuangan yang dilakukan agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan dipihak lawan

Ä  Fungsi dinamis persaingan

~         Menyalurkan daya kreativitas

~         Menyalurkan daya juang yang kompetitif

~         Memberikan stimulus untuk berprestasi secara optimal

~         Menghasilkan spesialisasi keahlian 

2)     Kontravensi

Yaitu interaksi sosial yang ditandai adanya ketidakpastian seseorang atau perasaan yang tidak suka yang disembunyikan

Ä  Bentuk kontravensi

  1. Umum contohnya : penolakan, perlawanan
  2. Sederhana, contoh : menyangkal pernyataan seseorang di depan umum
  3. Intensif, contoh : penyebaran desas-desus, penghasutan
  4. Rahasia, contoh : penghianatan, membocorkan rahasia
  5. Taktis, contoh : intimidasi, provokasi. 

Ä  Tipe-tipe kontravensi

  1. Kontravensi parlementer : kontravensi yang berkaitan dengan hubungan antara golongan mayoritas dan minoritas dalam masyarakat.
  2. Kontravensi antar generasi dalam masyarakat
  3. Kontravensi yang menyangkut perbedaan jenis kelamin 

3)     Pertentangan ( Konflik ) 

Yaitu suatu proses sosial dimana seseorang atau kelompok manusia berusaha memenuhi tujuannya dengan cara menentang pihak lawan disertai dengan ancaman atau kekerasan.

Ä  Sebab terjadinya konflik

  1. Perubahan nilai sosial yang terlalu cepat
  2. Perbedaan antar individu
  3. Perbedaan latar belakang kebudayaan
  4. Perbedaan kepentingan antar individu/ kelompok

Ä  Macam-macam konflik

  1. Pribadi : yang terjadi antara individu karena masalah pribadi.
  2. Rasial: yang terjadi antar ras atau antar suku karena perbedaan kepentingan
  3. Antar kelas sosial : yang terjadi karena perbedaan kepentingan antar kelas sosial (buruh dgn majikan)
  4. Politik : yang terjadi antar partai politik karena perbedaan ideologi, asas perjuangan dan cita-cita politik masing-masing
  5.  Internasional : yang melibatkan beberapa kelompok negara karena perbedaan kepentingan masing-masing

 

 

Ä  Akibat Konflik

  1. Mempertebal solidaritas dalam kelompok/ in-group
  2. Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia (kerugian materi).
  3. Terjadi akomodasi ( kedua pihak sama kuat ) dan dominasi ( salah satu pihak lebih kuat )
  4. Persatuan dan kesatuan kelompok akan goyah
  5. Berubahnya kepribadian individu baik positif maupun negatif ( cara pandang )

 

NORMA DAN NILAI SOSIAL  

Norma sosial lebih merupakan aturan-aturan dengan sanksi-sanksi yang dimaksudkan untuk mendorong bahkan menekan individu, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan untuk mencapai nilai-nilai sosial.

 

Norma-norma dapat dibentuk menjadi lembaga kemasyarakatan jika mengalami beberapa proses, yaitu :

  1. Proses pelembagaan ( Institusionalization ) yaitu : norma-norma mulai dikenal, diakui, dihargai, dan kemudian ditaati.
  2. Proses Internalized ( Internalisasi ) yaitu : norma-norma sudah mendarah daging dalam jiwa anggota masyarakat.    

 

Norma-norma pengikat dalam masyarakat atau jenis-jenis norma

Jika ditinjau dari segi kekuatan mengikat norma digolongkan menjadi :

  1. Cara ( Usage )

Proses interaksi yang terus menerus akan melahirkan pola-pola tertentu yang disebut Cara ( usage ). Cara adalah perbuatan yang daya ikatnya sangat lemah. Pelangaran terhadap Cara hanya dikenai sanksi disebut tidak sopan misalnya makan tersedak, bersendawa saat makan, dan lain-lain.

  1. Kebiasaan ( Folkways )

Kebiasaan adalah sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama. Contoh, memberikan salam pada waktu bertemu, bertutur kata sopan, menghormati orang tua dll. Sanksi terhadap pelanggaran norma ini berupa teguran, sindiran dipergunjingkan dan sebagainya yang sifatnya ringan. Sehingga folkways disebut juga dengan norma ringan.

  1. Norma tata kelakuan  ( mores )

Mores adalah aturan yang berlandaskan pada apa yang baik dan seharusnya menurut ajaran agama, filsafat atau nilai kebudayaan. Mores digunakan sebagai alat pengawas baik secara langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat terhadap anggotanya. Contoh pelanggaran mores adalah berzinah. Sanksinya berat misalnya dikucilkan dari kampung.

Fungsi norma tata kelakuan di masyarakat :

  1. Memberikan batasan perilaku individu dalam masyarakat ( berupa perintah dan larangan )
  2. Mengidentifikasikan individu dengan kelompoknya / mendorong seseorang agar menyesuaikan tindakannya dengan tata kelakuan yang berlaku di masyarakat.
  3. Membentuk solidaritas antar anggota masyarakat.
  4. Norma adat istiadat ( custom )

Tata kelakuan yang kekal serta kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat dapat mengikat dan menjadi adat istiadat ( Customs ). Anggota masyarakat yang melanggar adat-istiadat memperoleh sanksi yang berat misalnya diusir/ dikucilkan dari masyarakat .  

  1. Norma agama

Norma agama merupakan norma yang berfungsi sebagai petunjuk dan pegangan bagi umat manusia. Berdasarkan keyakinan tersebut maka umat manusia terikat oleh norma agama ini. Pelanggaran atas norma ini akan dikenai sanksi dosa.

  1. Norma Hukum ( laws )

Norma hukum merupakan suatu norma yang lebih tepat disebut sabagai hukum tertulis. Laws adalah suatu rangkain aturan yang ditujukan kepada anggota masyarakat yang berisi ketentuan, perintah, kewajiban dan larangan, agar dalam masyarakat tercipta suatu ketertiban dan keadilan.

  1. Mode (fashion)

Mode dan fashion adalah cara dan gaya melakukan dan membuat sesuatu yang sering berubah-ubah serta diikuti orang banyak. Mode atau fashion tidak hanya tampak pada cara orang memotong dan menggunakan pakaian, cara mengatur rambut dan sebagainya. Tetapi apabila tidak dapat menerapkan mode dengan situasi, kondisi dan lingkungan, akan terasa aneh dan menimbulkan pergunjingan. Misalnya: mode pakaian yang terlalu “mencolok” atau “seronok”.

 

Macam Norma Sosial :

Norma sosial di masyarakat dibedakan menjadi :

  1. Norma agama : sifatnya mutlak, bersumber dari Tuhan. Sanksi terhadap norma agama: dosa/ neraka.
  2. Norma kesusilaan: bersumber dari hati nurani atau akhlak manusia. Sanksi terhadap norma kesusilaan berupa pengucilan.
  3. Norma kesopanan : bersumber dari aturan tingkah laku dalam masyarakat. Sanksi terhadap norma kesopanan berupa kritikan atau celaan.

 

  1. Norma kebiasaan : bersumber dari perilaku yang diulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan individu. Sanksinya berupa celaan, kritikan atau pengucilan.
  2. Norma hukum: berisi perintah dan larangan yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang (negara). Sanksinya berupa denda atau hukuman. Norma hukum mempunyai sanksi yang paling kuat.

Norma agama dan norma kesusilaan berlaku secara luas/ universal, sedangkan norma yang lain hanya berlaku untuk kelompok masyarakat tertentu.

 

Hubungan interaksi sosial dengan nilai sosial  

 

            Nilai sosial dapat didefinisikan sebagai sikap dan perasaan yang diterima oleh masyarakat sebagai dasar untuk merumuskan apa yang benar dan penting.

Dengan demikian nilai-nilai itu mengandung standar normatif untuk perilaku, baik berhubungan dengan kehidupan pribadi maupun dengan kehidupan sosial. Di dalam kenyataan sehari-hari sulit untuk secara pasti mengetahui nilai-nilai yang dianut oleh seseorang maupun sekelompok masyarakat.

 

Ciri nilai sosial :

 

  1. Tercipta dari proses interaksi antar manusia secara intensif dan bukan perilaku yang dibawa sejak lahir.

Contoh: anak yang menerima nilai menghargai waktu karena diajarkan disiplin sejak kecil.

  1. Ditransformasikan melalui proses belajar yang meliputi sosialisasi, akulturasi dan difusi.

Contoh, nilai persahabatan dipelajari anak akibat sosialisasi dengan teman sekolah.

  1. Berupa ukuran atau peraturan sosial yang ikut memenuhi kebutuhan sosial.

Contoh, nilai menghargai antre menjadi ukuran tertib tidaknya seseorang, sekaligus menjadi aturan yang wajib diikuti.

  1. Berbeda-beda untuk tiap kelompok manusia.

Contoh, nilai menghargai waktu berbeda antara orang barat dengan orang Indonesia.

  1. Masing-masing nilai memiliki efek yang berbeda bagi tindakan manusia.

Contoh, orang yang mengutamakan nilai uang sering berbeda dengan orang yang mengutamakan nilai kejujuran.

  1. Dapat mempengaruhi kepribadian individu.

Contoh, Nilai mengutamakan kepentingan pribadi melahirkan sikap individualis.

Fungsi-fungsi nilai sosial :

1)       Memberikan seperangkat alat untuk menetapkan harga sosial / kelas sosial dari suatu kelompok.

Adanya, masyarakat kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah

2)       Mengarahkan masyarakat dalam berfikir dan bertingkah laku sesuai nilai yang berlaku.

3)       Memotivasi manusia untuk mewujudkan dirinya dalam perilaku sesuai yang diharapkan.

4)       Sebagai alat solidaritas di kalangan anggota masyarakat untuk saling bekerja sama.

5)       Sebagai alat kontrol perilaku manusia 

Fungsi-fungsi norma sosial :

1)      Sebagai pedoman hidup yang berlaku untuk semua warga masyarakat

2)      Mengikat setiap anggota masyarakat sehingga berakibat memberikan sanksi terhadap anggota masyarakat yang melanggarnya.

Jenis-jenis nilai ( Notonegoro )

a)       Nilai material : maliputi berbagai konsepsi mengenai segala sesuatu yang berguna bagi bagi jasmani manusia.

b)      Nilai vital : meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berguna bagi manusia dalam melaksanakan berbagai aktifitas

c)       Nilai kerohanian : meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia seperti :

a)     Kebenaran : yang bersumber pada akal manusia ( cipta )

b)    Keindahan : yang bersumber pada unsur perasaan ( estetika )

c)     Moral : yang bersumber pada unsur kehendak / etika dalam masyarakat ( karsa ), dan

d)    Keagamaan ( religius ) : nilai yang bersumber pada wahyu  dari Tuhan

Disamping pembagian nilai di atas juga dikenal istilah nilai material (nilai jasmaniah) dan nilai immaterial (nilai rohaniah).

 

Keteraturan sosial

adalah suatu kondisi dinamis, dimana sendi-sendi kehidupan bermasyarakat berjalan secara tertib dan teratur, sehingga tujuan kehidupan bermasyarakat dapat dicapai secara berdaya guna dan berhasil guna.

 

M  Proses terbentuknya suatu keteraturan social bisa dilihat pada skema di bawah ini :

 

       
 

TERTIB SOSIAL

 

 

KETERATURAN SOSIAL

 

 

 

KEAJEGAN

 

ORDINASI

 

                                

 

Tahap I                            Tahap II                      Tahap III                           Hasil

 

 

 

 

 

M Tertib sosial

Yaitu suatu kondisi keselarasan antara tindakan anggota masyarakat dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut.

Ciri-ciri tertib sosial :

  1. Terdapat suatu sistem nilai dan norma yang jelas
  2. Individu / kelompok dalam masyarakat mengetahui dan memahami norma-norma sosial dan nilai-nilai yang berlaku
  3. Individu / kelompok dalam masyarakat menyesuaikan tindakan-tindakanya dengan norma dan nilai sosial yang berlaku.

 

SOSIALISASI

 

  1. Pengertian Sosialisasi

Sosialisasi dapat diartikan sebagai proses belajar individu untuk mengenal dan menghayati norma-norma serta nilai-nilai sosial sehingga terjadi pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan atau perilaku masyarakatnya.

Sosialisasi juga dapat didefinisikan sebagai suatu proses sosial yang terjadi bila seorang individu menghayati dan melaksanakan norma-norma kelompok tempat ia hidup sehingga akan merasa jadi bagian dari kelompoknya.

 

Berdasarkan pengertian sosialisasi yang dikemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Sosialisasi ditempuh seorang individu melalui proses  belajar untuk memahami, menghayati, menyesuaikan, dan melaksanakan suatu tindakan sosial yang sesuai dengan pola perilaku masyarakatnya.
  2. Sosialisasi di tempuh seorang individu secara bertahap dan berkesinambungan, sejak ia dilahirkan hingga akhir hayatnya.
  3. Sosialisasi erat sekali kaitanya dengan enkulturasi atau proses pembudayaan, yaitu suatu proses belajar seorang individu untuk belajar mengenal, menghayati, dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya terhadap sistem adat dan norma, serta semua peraturan dan pendirian yang hidup di dalam lingkungan kebudayaan masyarakatnya.

Soerjono Soekanto juga berpendapat, bahwa sosialisasi adalah proses sosial tempat sesorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan perilaku orang-orang di dalam kelompoknya.

 

  1. Media Sosialisasi
  1. a.     Keluaraga

Keluarga merupakan media awal dari suatu proses sosialisasi. Proses sosialisasi awal ini dimulai dengan proses belajar menyesuaikan cara makan, berbicara, berjalan, hingga belajar bertindak dan berperilaku.

Dalam keluarga, orang tua mencurahkan perhatian untuk mendidik anak agar anak tersebut memperoleh dasar-dasar pola pergaulan hidup yang benar dan baik melalui penanaman disiplin sehingga membentuk kepribadian yang baik bagi si anak. Oleh karena itu orang tua sangat berperan untuk:

  1. memberikan pengawasan yang wajar sehingga anak tidak merasa tertekan jiwanya;
  2. mendorong agar anak dapat membedakan antara perilaku benar salah, baik buruk, pantas dan tidak pantas, dan sebagainya;
  3. memberikan contoh perilaku yang baik dan pantas bagi anak-anaknya.

 

Apabila terjadi suatu kondisi yang berlainan dengan hal di atas, maka anak-anak akan mengalami kekecewaan. Kondisi tersebut disebabkan oleh beberapa hal berikut:

  1. Orang tua kurang memperhatikan anak-anaknya, terlalu sibuk dengan kepentinganya sendiri. Sehingga hubungan keduanya menjadi renggang, padahal anak sangat memerlukan kasih sayang mereka.
  2. Orang tua terlalu memaksakan kehendak dan gagasanya pada anak dengan ancaman dan sanksi yang dirasakan anak cukup berat, sehingga jiwa anak tertekan.

 

Ada dua macam pola sosialisasi yaitu:

a)     Sosialisasi Represif (represive sosialization) yaitu yang mengutamakan adanya ketaatan anak pada orang tua. Dengan ciri-cirinya antara lain:

v  menghukum perilaku yang keliru

v  hukuman dan imbalan material

v  kepatuhan anak

v  komunikasi sebagai perintah

v  komunikasi nonverbal

v  sosialisasi berpusat pada orang tua, dan

v  keluarga merupakan  significant order (dominasi orang tua)

 

 

 

 

b)    Sosialisasi patisipasi (Participatory Sosialitation) yaitu yang mengutamakan adanya partisipasi dari anak. Dengan ciri-cirinya antara lain:

v  memberikan imbalan bagi perilaku yang baik

v  hukuman dan imbalan simbiolis

v  ctonomi anak

v  komunikasi sebagai interaksi

v  komunikasi verbal

v  sosialisasi berpusat pada anak

v  orang tua memperhatikan keinginan anak, dan

v  keluarga merupakan generalized order (kerjasama ke arah tujuan ).

 

Keseluruhan sistem belajar mengajar sebagai bentuk sosialisasi dalam keluarga bisa disebut sistem pendidikan keluarga. Sistem pendidikan keluarga dilaksanakan melalui pola asuh, yaitu pola untuk menjaga, merawat dan membesarkan anak.

 

 

  1. b.    Kelompok Bermain

Kelompok bermain disebut juga dengan peer group. Pada usia anak-anak, kelompok bermain mencakup teman-teman, tetangga, keluarga, dan kerabat.

Peranan positif  kelompok persahabatan bagi perkembangan kepribadian anak antara lain:

v  Rasa aman dan rasa dianggap penting dalam kelompok akan sangat berguna bagi perkembangan jiwa anak.

v  Perkembangan kemandirian remaja tumbuh dengan baik dalam kelompok persahabatan.

v  Remaja mendapat tempat yang baik bagi penyaluran rasa kecewa, takut, khawatir, gembira, dan sebagainya yang mungkin tidak di dapatkan dirumah

v  Melalui interaksi dalam kelompok, remaja dapat mengembangkan berbagai keterampilan sosial yang berguna bagi kehidupannya kelak

v  Pada umumnya kelompok persahabatan mempunyai pola perilaku dan kaidah-kaidah tertentu yang mendorong remaja untuk bersikap lebih dewasa.

 

Diantara kelompok persahabatan, adakalanya terbentuk suatu kelompok remaja yang dikenal dengan sebutan geng. Tak jarang antara satu geng yang satu dengan yang lain terjadi persaingan hingga berlanjut dengan berkelahian atau tawuran. Oleh karena itu, tidak heran jika geng sering dikonotasikan sebagai kelompok persahabatan yang negatif. Akan tetapi, ada juga geng yang dapat mengembangkan dasar-dasar kepribadian yang sifatnya positif bagi anggotanya, seperti:

1)     mengembangkan ketrampilan berorganisasi dan kepemimpinan

2)     menumbuhkan rasa kesetiakawanan sosial

3)     rela berkorban untuk semua anggota kelompok sehingga timbul rasa solidaritas

4)     menyalurkan semangat patriotisme.

 

  1. c.     Lingkungan Sekolah

Di lingkungan sekolah, seseorang mempelajari hal-hal yang baru yang belum pernah mereka temukan, baik di lingkungan keluarga maupun kelompok bermain.

Menurut Horton, fungsi nyata dari pendidikan antara lain:

1)     sebagi modal penting dalam menentukan mata pencaharian

2)     dapat mengembangkan potensi demi pemenuhan kebutuhan pribadi dan pengembangan masyarakat

3)     melestarikan kebudayaan dengan cara mewariskan dari satu generasi kegenerasi berikutnya

4)     membentuk kepribadian.

 

  1. d.    Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja juga mempunyai pengaruh yang besar pada pembentukan kepribadian seseorang. Pengaruh dari lingkungan kerja tersebut pada umumnya mengendap dalam diri seseorang dan sukar sekali untuk diubah, apalagi jika yang bersangkutan cukup lama bekerja dilingkungan tersebut.

 

  1. e.     Media Massa

Media massa yang terdiri dari media cetak maupun elektronik merupakan alat komunikasi yang dapat menjangkau masyarakat secara luas. Media massa diidentifikasikan sebagai media sosialisasi yang berpengaruh terhadap perilaku khalayaknya. Media massa pun sering digunakan untuk mempengaruhi dan membentuk pendapat umum. Di banyak negara, termasuk Indonesia, televisi juga dimanfaatkan untuk menayangkan siaran-siaran pendidikan

 

  1. Bentuk-Bentuk Sosialisasi

Peter L. Berger dan Luckmann membedakan sosialaisasi menjadi dua jenis, yaitu:

  1. 1.     Sosialisasi Primer

Sosialisasi Primer merupakan sosialisasi pertama yang dialami individu sewaktu kecil dalam keluarga. Pada tahap ini, anak mulai mengenal keluarganya, dan berlangsung sebelum si anak memasuki lingkungan yang lebih luas.

 

 

 

 

  1. 2.     Sosialisasi Sekunder

Sosialisasi Sekunder merupakan tahapan lanjutan setelah sosialisasi primer meliputi lingkungan teman sepermainan, lingkungan sekolah, dst. Tahap ini dikenal adanya proses desosialisasi, yaitu proses pencabutan identitas diri yang lama dan dilanjutkan dengan resosialisasiyaitu pemberian identitas baru yang didapat melalui institusi sosial.

 

  1. Proses Sosialisasi Tahapan Sosialisasi.

George Herbert Mead menyatakan ada 4 tahap proses sosialisasi :

  1. 1.     Preparatoty stage / Imitation stage / tahap persiapan

Merupakan tahap persiapan mengenal dunia sosial dan pemahaman diri. Sejak dilahirkan, seorang anak (terutama balita) hidupnya sangat tergantung pada perlindungan dan bantuan orang tua dan saudara-saudara dekat di lingkungan keluarganya. Anak mulai belajar menirukan apa yang diajarkam orang tuanya walaupun tidak sempurna.

2.   Play stage / tahap meniru

Setelah anak-anak mulai  mengenal lingkungan yang lebih luas, yaitu lingkungan teman sepermainanya, si anak mengenal teknik bermain peran. Misalnya main polisi-polisian, perang-perangan, dokter-dokteran dan sebagainya. Jadi tahapan ini anak sudah pandai menirukan peran-peran tertentu, walaupun masih terbatas.

  1. 3.     Game stage / tahap bermain peran / tahap siap bertindak

Tahapan ini merupakan tahapan lanjutan dari teknik bermain peran pada masa anak-anak. Seorang remaja tidak hanya meniru peran seseorang yang diidolakanya, tetapi sudah mengidentikan dirinya, memainkan sendiri peran yang dipilihnya dengan penuh kesadaran.

  1. 4.     Generalized others / tahap umum lainnya / tahap penerimaan norma kolektif

Pada tahap ini seseorang sudah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat luas.

 

 

 

 

 

KEPRIBADIAN

 

  1. Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian
  1. Faktor Biologis

Meliputi :

  1. Persamaan Biologis : pada dasarnya setiap anak yang normal memiliki persamaan biologis tertentu. (Anak yang lahir cacat memiliki kepribadian yang berbeda dengan yang terlahir normal).
  2. Kematangan Biologis : terdapat tahap-tahap tertentu dalam perkembangan anak yang tidak bisa dipaksakan.
  3. Karakteristik fisik :

Faktor pembawaan bisa berupa bentuk fisik, warna kulit, tipe rambut, raut muka, postur tubuh, termasuk hal-hal yang bersifat abstrak, seperti karakter, bakat, dan IQ.

  1. Faktor Geografis / Lingkungan Fisik

Faktor lingkungan fisik akan mempengaruhi kepribadian seorang individu. Misalnya, masyarakat yang tinggal di daerah subur seperti daerah pedesaan cenderung memiliki kepribadian yang ramah, tenang, dan sabar. Sebaliknya masyarakat yang tinggal di daerah tandus cenderung rakus, tamak, dan egois karena lingkungan fisik yang keras.

  1. Faktor Kelompok

Sebuah kelompok dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian anggotanya, baik kepribadian yang sifatnya positif maupun negatif, misalnya kelompok sepermainan.

 

  1. Faktor Kabudayaan Khusus

Setiap daerah memiliki karakteristik yang khas karena pengaruh kebudayaan yang dianut. Misalnya, kepribadian masyarakat Kota berbeda dengan masyaraka Desa atau masyakat industri berbeda kepribadianya dengan masyarakat tradisional. Begitu juga jika menyangkut kepribadian suku bangsa, ras, dan kelas sosial tertentu akan berbeda satu sama lain

  1. Faktor Pengalaman yang Unik

Kepribadian seseorang akan dipengaruhi oleh sejumlah pengalaman yang dilalui dalam hidupnya. Pengalaman yang dilalui individu tidak sama dengan individu lainya. Oleh karena itu, pengalaman yang unik akan membentuk kepribadian seseorang yang berbeda satu sama lain.

 

PERILAKU MENYIMPANG

 

I. PENGERTIAN     

Pengertian perilaku menyimpang secara umum adalah perilaku yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang dianut oleh masyarakat. Perilaku menyimpang bisa juga disebut nonkonformitas.

Perilaku menyimpang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan kehidupan sosial dalam masyarakat. Misalnya pada masa tradisional cenderung menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku, yaitu berdasarkan ukuran yang telah dijalankan oleh nenek moyangnya. Masyarakat kota mempunyai kecenderungan berupaya menyesuaikan diri dengan peraturan-peraturan yang ada.

 

II. SEBAB-SEBAB PERILAKU MENYIMPANG

 

 a. Hasil sosialisasi yang tidak sempurna (Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan).

Hal ini dapat terjadi jika seseorang individu tidak mampu membedakan perilaku yang pantas dan tidak pantas. Ini dapat terjadi karena seseorang menjalani proses sosialisasi yang tidak sempurna, nilai/norma yang dipelajari tidak dapat dipahami sehingga tidak merasa bersalah apabila melanggar norma dalam masyarakat. Misalnya, seorang anak sulung perempuan berperilaku tomboy karena menggantikan peran ayahnya, anak-anak dari keluarga yang retak cenderung melakukan kejahatan, adanya cacat bawaan atau goncangan mental.

   b. Proses belajar yang menyimpang.

Mekanisme proses belajar perilaku menyimpang sama halnya dengan proses belajar lainnya. Proses belajar ini terjadi interaksi sosial dengan orang lain khususnya orang-orang berperilaku menyimpang yang sudah berpengalaman.

  c. Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial.

Setiap masyarakat tidak hanya memiliki tujuan-tujuan yang dianjurkan oleh kebudayaan, tetapi juga dengan cara-cara yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga kemungkinan besar akan terjadi perilaku menyimpang.

  d. Ikatan sosial yang belainan.

Setiap orang biasanya berhubungan dengan kelompok yang berlainan. Hubungan dengan kelompok-kelompok tersebut akan cenderung membuatnya mengidentifikasi dirinya dengan kelompok yang paling dihargainya.

 

  e. Akibat proses sosialisasi nilai-nilai sub kebudayaan menyimpamg.

Proses sosialisasi dapat sering terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja. Perilaku menyimpang sebagai hasil sengaja dapat terjadi melalui kelompok-kelompok gelap yang tujuannya benar-benar mengajarkan penyimpangan. Misalnya: kelompok penjudi, pemakai narkotika, homoseksual, dsb.

  f. Sikap mental yang tidak sehat.

Hal ini terjadi karena orang yang melakukan perilaku menyimpang tidak merasa bersalah/menyesal bahkan merasa senang.

  g. Dorongan kebutuhan ekonomi.

Seseorang yang terdesak kebutuhan ekonominya jika tidak memiliki iman yang kuat atau tidak dapat mengendalikan diri atau tidak mau bekerja keras dapat terdorong menjadi penjahat.

 

  h. Pelampiasan rasa kecewa.

Seseorang yang biasanya mengalami rasa kecewa atau kepahitan hidup dapat melakukan perilaku yang menyimpang sebagai usaha pelarian atau pelampiasan terhadap rasa kecewa atau kesulitan itu.

 i.  Keinginan untuk dipuji.

Perilaku menyimpang kadang-kadang juga dilakukan sekedar untuk gaya atau keinginan untuk dipuji dan juga dilakukan agar dianggap hebat.

 

III. BENTUK-BENTUK PERILAKU MENYIMPANG

 

  1. a.     Penyimpangan Primer

: Penyimpangan sosial yang bersifat sementara (temporer). Individu yang melakukan penyimpangan masih dapat diterima oleh masyarakat sebab pelanggaran terhadap norma-norma umum tidak berlangsung terus-menerus. Contoh: membolos, melanggar rambu lalu lintas, terlambat membayar pajak.

  1. b.    Penyimpangan Sekunder

: Penyimpangan sosial yang nyata dan sering dilakukan sehingga menimbulkan akibat yang cukup parah, mengganggu orang lain dan tidak bisa diterima masyarakat. Contoh: pemabuk, penjudi, pencuri.

 

  1. Penyimpangan individual (individual deviation), seorang yang mengabaikan dan menolak norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Macam penyimpangan individual berdasarkan kadar penyimpangannya :

  1. Pembandel : penyimpangan karena tidak patuh pada nasehat orang tua
  2. Pembangkang : penyimpangan karena tidak taat kepada peringatan orang lain
  3. Pelanggar : penyimpangan karena melanggar norma umum di masyarakat
  4. Penjahat / Perusuh : penyimpangan karena melanggar norma umum yang mengakibatkan kerugian harta benda / jiwa.
  5. Munafik : penyimpangan karena tidak menepati janji / berbohong / berkhianat.
  6. Penyimpangan kelompok ( group deviation), sekelompok orang yang tunduk pada norma kelompok padahal norma tersebut bertentangan dengan norma masyarakat.

 

Jenis-jenis Perilaku Menyimpang :

            a. Penyalahgunaan narkotika.

            b. Perkelahian pelajar

            c. Hubungan seksual diluar nikah.

            d. Homoseksual

            e. Alkoholisme.

            f.  Pembunuhan.

 

 

IV. TEORI-TEORI PERILAKU MENYIMPANG

Ada beberapa teori yang mengetengahkan tentang perilaku menyimpang, antara lain:

  1. a.     Teori fungsi oleh Emile Durkheim

Berpendapat bahwa keseragaman dalam kesadaran moral semua warga masyarakat tidak dimungkinkan ada, karena setiap individu berbeda dengan yang lain. Artinya kejahatan itu akan selalu ada karena orang yang berwatak jahatpun akan selalu ada. Bahkan kejahatan itu perlu agar moralitas dan hukum dapat berkembang.

  1. b.    Teori merton oleh Robert K. Merton

berpendapat bahwa struktur sosial bukan hanya menghasilkan perilaku yang konformis melainkan juga menghasilkan perilaku yang menyimpang. Perilaku menympang merupakan bentuk adaptasi terhadap situasi tertentu. Merton mengidentifikasikan ada 5 bentuk adaptasi, 4 diantaranya merupakan perilaku menyimpang, Yaitu :

  1. Konformitas (conformity) : perilaku mengikuti tujuan dan cara-cara yang ditentukan masyarakat untuk mencapai tujuan. Mis: ingin kaya dengan kerja keras.
  2. Inovasi : perilaku mengikuti tujuan dalam masyarakat tetapi dengan cara-cara yang tidak biasa, termasuk dengan cara kriminal. Contoh: Seorang ahli komputer berhasil menembus system komputer Bank untuk keuntungan pribadi. Guru menggunakan metode mengajar dengan membuat kelas ribut.
  3. Ritualisme : perilaku seseorang yang meninggalkan tujuan budaya tetapi masih berpegang pada cara-cara yang digariskan masyarakat. Contoh : mengikuti upacara bendera agar tidak dihukum, mentaati peraturan lalu lintas agar tidak ditilang bukan demi keselamatan.
  4. Pengunduran/ pengasingan diri (retreatisme) : perilaku yang meninggalkan tujuan dan cara-cara mencapai tujuan yang digariskan masyarakat. Contoh: karyawan yang mengundurkan diri karena konflik dengan perusahaan, pecandu obat bius, pemabuk, dll.
  5. Pemberontakan (rebellion) : perilaku menolak tujuan dan cara-cara yang digariskan masyarakat dan menggantikannya dengan cara baru. Contih: gerakan revolusioner, reformator.
  6. c.     Teori labeling oleh Edwin M. Lemert

Berpendapat bahwa seseorang menjadi penyimpang karena proses labeling yang diberikan masyarakat kepadanya. Seorang yang telah melakukan penyimpangan primer, tetapi oleh masyarakat dicap sebagai penyimpang. Contoh, pencuri, pembolos, wanita nakal, dsb.

  1. d.    Teori konflik oleh Karl Mark 

Menyatakan bahwa kejahatan terkait erat dengan perkembangan kapitalisme.

  1. e.     Teori pergaulan berbeda oleh Edwin H. Sutherland,

Berpendapat bahwa menyimpang bersumber dari pergaulan dengan sekelompok orang yang telah menyimpang. Contoh: proses mengisap ganja dan perilaku homoseksual.

 

PENGENDALIAN SOSIAL

 

Pengendalian Sosial adalah suatu proses baik yang direncanakan atau tidak direncanakan yang bertujuan untuk mengajak, membimbing, atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi nilai dan kaidah-kaidah yang berlaku.

Sifat Pengendalian Sosial :

  1. Bersifat preventif : usaha yang dilakukan sebelum terjadi pelanggaran. Tujuannya mencegah terjadinya pelanggaran.
  2. bersifat represif : dilakukan setelah terjadi pelanggaran supaya keadaan pulih seperti sedia kala.
  3. Pengendalian sosial gabungan (preventif dan represif).

Cara pengendalian sosial :

  1. Secara Persuasif : menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing berupa anjuran.
  2. Secara Kurasif / koersif : dilakukan dengan ancaman dan kekerasan.

 

Pengendalian sosial berdasarkan asalnya dibedakan menjadi 2 macam,yaitu:

  1. Pengendalian internal,ialah pengendalian yang berasal dari penguasa (the rulling of class) untuk menjalankan roda pemerintahan maupun program-program sosial.
  2. Pengendalian eksternal, ialah pengendalian yang berasal dari rakyat kepada para penguasa,karena dirasa adanya penyimpangan-penyimpangan tertentu oleh kalangan penguasa. Pengendalian eksternal dapat berupa pemogokan,demontrasi,unjuk rasa serta usulan-usulan melalui Dewan Perwakilan Rakyat.

 

Fungsi pengendalian social :

      Secara umum pengendalian sosial berfungsi untuk menegakkan norma dan nilai-nilai dalam masyarakat agar dapat dijadikan pedoman dalam berperilaku dan memperbaiki perilaku menyimpang.

Sedangkan Koentjaraningrat membedakan fungsi pengendalian sosial menjadi lima macam, yaitu :

  1. Mempertebal keyakinan masyarakat tentang kebaikan norma.  (- dgn sosialisasi)
  2. Memberikan imbalan kepada warga masyarakat yang mentaati norma. ( dgn pujian atau penghormatan)
  3. mengembangkan rasa malu. (dicela atau dikucilkan)
  4. mengembangkan rasa takut. (ancaman hukuman)
  5. menciptakan sistem hukum. ( adanya sanksi bagi yang melanggar)

 

 

CARA-CARA PENGENDALIAN SOSIAL

Dalam pergaulan sehari-hari kita akan menjumpai berbagai jenis pengendalian sosial yang digunakan untuk mencegah atau mengatasi perilaku menyimpang.Cara pengendalian sosial tersebut antara lain:

a. Gosip atau desas desus.

Bentuk pengendalian yang dilontarkan secara tertutup oleh masyarakat terhadap warga masyarakat yang menyimpang perilakunya.

b. Teguran

Kritik sosial yang dilontarkan secara terbuka. Dalam pelaksanaanya teguran ini ada 2 macam,yaitu teguran lisan dan teguran tertulis.

c. Pendidikan

Pengaruh pendidikan sangat menentukan proses pembentukan kepribadian seseorang. Individu yang berpendidikan baik cenderung berperilaku lebih baik karena individu mempunyai, mengalami dan mengikuti pendidikan yang sempurna dalam kehidupannya. Sebaliknya individu yang kurang pendidikannya, cenderung mengalami kesulitan penyesuaian dirinya dalam interaksi sosial dimasyarakatnya.

d. Agama

agama dapat berperan sebagai alat pengendalian sosial, karena agama dapat mempengaruhi sikap dan perilaku para pemeluk dalam pergaulan hidup bermasyarakat.

e. Hukum

Dari keempat jenis pengendalian sosial, hukum merupakan bentuk pengendalian sosial yang sanksinya tegas dan nyata.

Lembaga yang berperan dalam pengendalian sosial :

  1. Kepolisian

Merupakan lembaga yang paling bertanggung jawab dalam sistem pengendalian sosial. Tugas pokoknya memelihara dan meningkatkan tertib hukum untuk mewujudkan ketentraman dan ketertiban dalam masyarakat.

  1. Pengadilan

Merupakan lembaga yang bertugas memutuskan perkara yang melanggar hukum.

  1. Adat
  2. Tokoh masyarakat

 

Stratifikasi Sosial

 

Stratifikasi Sosial

      Adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas sosial secara bertingkat atau secara hierarki/ Vertikal.

Proses terbentuknya stratifikasi sosial :

  1. Pelapisan sosial yang terjadi dengan sendirinya

: stratifikasi sosial yang tersusun secara tidak disengaja dan tanpa rencana.

 

Faktor yang mendasari pelapisan sosial yang terjadi dengan sendirinya :

a.  kepandaian                    c. sifat keaslian keanggotaan dalam masyarakat

  1. tingkat umur                 d. kepemilikan harta
  2. Pelapisan sosial yang sengaja disusun

Tujuannya untuk mengejar suatu tujuan tertentu/ tujuan bersama.

 

Sistem Stratifikasi Sosial :

  1. 1.     Stratifikasi sosial tertutup (closed social stratification)

: system stratifikasi sosial yang membatasi anggota masyarakat di dalamnya untuk melakukan mobilitas sosial. (Gambar)

Ciri masyarakat kasta di India menurut Soerjono Soekanto :

  1. keanggotaannya diperoleh melalui warisan / keturunan
  2. keanggotaannya berlaku seumur hidup
  3. perkawinan bersifat endogami
  4. hubungan antar kasta terbatas
  5. kesadaran dan kesatuan kasta serta penyesuaian diri terhadap norma sangat ketat
  6. kasta terikat oleh kedudukan yang secara tradisional telah ditentukan
  7. prestise kasta benar-benar dijaga
  8. kasta yang lebih rendah merupakan bagian dari kasta yang lebih tinggi.

 

  1. 2.     Stratifikasi sosial terbuka (opened social stratification)

: stratifikasi sosial yang memberi kesempatan kepada para anggotanya untuk melakukan mobilitas sosial. Stratifikasi sosial terbuka biasanya terjadi pada masyarakat industri atau modern dimana dasar pelapisan sosialnya berdasarkan prestasi atau ketrampilan. (Gambar)

  1. 3.     Stratifikasi sosial campuran

: stratifikasi sosial yang memberi kesempatan kepada para anggotanya untuk melakukan mobilitas sosial hanya pada golongan tertentu.

 

 

 

 

 Dasar pelapisan/stratifikasi sosial

  1. Kekayaan   

b.   Kekuasaan dan Wewenang

c.   Kehormatan

            d.   Ilmu Pengetahuan/Pendidikan

 

Bentuk-bentuk Lapisan Sosial

  1. a.     Berdasarkan Kriteria Ekonomi

Bentuk pelapisan sosial berdasarkan kriteria ekonomi membagi masyarakat ke dalam tiga kelas :

1.   kelas social atas (upper class)

2.   kelas sosial menengah (middle class)

  1. kelas social bawah (lower class)

(Gambar Kerucut Pelapisan Ekonomi)

     

  1. b.    Berdasarkan Kriteria Sosial    

Sistem pelapisan social masyarakat Bali berikut gelar yang dipakai :

  1. Kasta Brahmana: golongan  pendeta. Gelar : Ida Bagus, Ida Ayu.
  2. Kasta Ksatria : golongan bangsawan. Gelar : Cokorda, Dewa, Anak Agung, Ngakan, Bagus.
  3. Kasta Waisya : golongan pedagang. Gelar : Bagus, I Gusti, Gusti.
  4. Kasta Sudra : golongan rakyat jelata. Gelar : Pande, Kbon, Pasek

 

  1. c.     Berdasarkan Kriteria Politis

Robert Mac Iver membagi pola kekuasaan dalam sebuah piramida kekuasaan. Menurutnya terdapat tiga pola kekuasaan :

  1. Tipe Kasta : merupakan tipe pelapisan kekuasaan dengan garis pemisah yang tegas dan kaku.
  2.  Tipe Oligarkhis : pelapisan kekuasaan dengan garis pemisah yang tegas tetapi perbedaan antara pelapisan yang satu dengan yang lain tidak begitu mencolok.
  3. Tipe Demokratis : pelapisan kekuasaan dimana garis pemisah antar pelapisan yang ada sifatnya bergerak (mobil).

 

  1. d.    Berdasarkan Kriteria Pendidikan
  2. e.     Berdasarkan Kriteria Pekerjaan 

Menurut mata pencaharian, stratifikasi sosial dibedakan sebagai berikut,

a)     Elite, yaitu orang-orang yang kaya dan dan orang-orang yang menempati    kedudukan atau pekerjaan yang bernilai tinggi di masyarakat.

b)    Profesional,yaitu orab-orang yang berijazah dan bergelar kesarjanaan dan orang dari dunia perdagangan yang berhasil.

c)     Semiprofesional, mereka adalah para pegawai kantor, pedagang, teknisi, berpendidikan menengah, mereka yang tidak berhasil mencapai gelar, dan para pedagang buku.

d)    Tenaga Terampil, mereka adalah orang-orang yang mempunyai keterampilan teknik mekanik seperti pemotong rambut, pekerja pabrik, sekretaris, dan stenographer.

e)     Tenaga Tidak Terdidik, misalnya pembantu rumah tangga dan tukang kebun.

 

 

Unsur-unsur Stratifikasi Sosial :

  1. Kedudukan / Status Sosial : tempat / posisi seseorang dalam masyarakat / kelompok sosial.

      Kedudukan / status sosial di masyarakat dapat dibedakan menjadi :

  1. Ascribed Status : kedudukan seseorang dalam masyarakat yang diperoleh berdasarkan keturunan/ kelahiran, tanpa memperhatikan kemampuan.
  2. Achieved Status : kedudukan seseorang yang dicapai melalui usaha yang disengaja
  3. Assigned Status : kedudukan yang diberikan kepada seseorang karena berjasa pada masyarakat.

 

  1. b.    Peranan : pola perilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki kedudukan/status tertentu dalam masyarakat / organisasi sosial.

(Apa yang dimaksud dengan konflik status dan konflik peran ?)

 

Diferensiasi sosial

 

      Adalah pembedaan penduduk atau masyarakat  dalam kelas sosial secara horisontal / mendatar.

 

  1. 1.     Diferensiasi sosial berdasarkan ras:

      Ras adalah kategori individu secara turun-temurun yang memiliki ciri-ciri fisik dan biologis tertentu yang sama. Artinya, ciri-ciri yang dikemukakan bukan sifat-sifat budayanya, melainkan ciri-ciri fisiknya. Misalnya bentuk muka, hidung, warna kulit dan warna rambut.

Ciri fisik manusia dikelompokkan atas tiga golongan sebagai berikut,

      a). Ciri Fenotip (ciri-ciri yang tampak)

                 Ciri fenotip ini terdiri atas dua klasifikasi, yaitu ciri kualitatif dan kuantitatif.   

 Ciri kualitatif adalah ciri yang tidak bisa diukur, antara lain berupa warna kulit, warna rambut, bentuk mata, bentuk hidung, bentuk dagu, dan bentuk bibir.

Sedangkan ciri kuantitatif adalah ciri yang bisa diukur antara lain meliputi tinggi badan, berat badan, dan ukuran kepala.

 

 

            b). Ciri Filogenetik

                  yaitu hubungan asal-usul ras-ras dan perkembangannya.

            c).  Ciri Genetik

                   yaitu ciri yang didasarkan pada keturunan darah.

 

            Koentjaraningrat mengklasifikasikan ragam ras terpenting di dunia, yang meliputi sebagai berikut

  1. Caucasoid(kulit putih)
    1. Nordic (Eropa Utara sekitar Laut Baltik),
    2. Alpine (Eropa Tengah dan Timur),
    3. Mediteranian (sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Amerika dan Arabia),
    4. Indic (India).
    5. Mongoloid(kulit kuning)
      1. a.    Asiatic Mongoloid (Asia Utara, Asia Tengah, dan Asia Timur),
      2. Malaya Mongoloid (Asia Tenggara, Kepulauan Indonesia, dan Malaya Filpina),
      3. c.    American Mongoloid (dari orang Eskimo dari Amerika Utara sampai penduduk Terra de’ Fuego di Amerika Serikat).
      4. Negrito(kulit hitam)  
        1. a.    African Negroid (Benua Afrika),
        2. Negrito (Afrika Tengah, Malaya, dan Filipina),
        3. c.    Melanesian (Papua dan Melanesia).
      5. Ras-ras khusus (yang tidak dapat diklasifikasikan) :

            a.   Bushman (di daerah Gurun Kalahari di Afrika Selatan),

            b.   Veddoid (pedalaman Sri Lanka dan Sulawesi Selatan),

            c.   Austroloid (penduduk asli Australia),

            d.   Polinesian (Kepulauan Mikronesia dan Polinesia),

            e.      Ainu (Pulau Karafuto, Hokkaido, dan Nippon Utara).

 

      Melihat daftar ras di atas, maka di Indonesia terdapat ras jamak (multiras) yaitu

a).  Ras Malaya Mongoloid yang kebanyakan tinggal di Jawa,

b).  Ras Negroid (Melanesian) yang tinggal di Papua, dan

c).  Ras Veddoid yang tinggal di Sulawesi Selatan.

 

 

2. Diferensiasi sosial berdasarkan Suku Bangsa

Suku Bangsa adalah golongan sosial yang dibedakan dari golongan-golongan sosial lainnya karena mempunyai ciri-ciri yang paling mendasar dan umum yang berkaitan dengan asal-usul, tempat asal, serta kebudayaannya.

   Ciri-ciri yang paling mendasar tersebut antara lain adanya kesamaan dalam hal:

a).  Tipe fisik (warna kulit, rambut,dll),

b).  Bahasa yang digunakan,

c).  Adat Istiadat, termasuk hukum adatnya,

d).  Kesenian, serta

e).  Kesadaran kolektif.

   Sistem budaya suku bangsa di Indonesia biasanya masih didasarkan pada system lingkaran-lingkaran hukum adat. Hal ini diteliti oleh seorang ahli hukum adat bernama Van Vollenhoven. Menurutnya, Indonesia dapat dibedakan ke dalam 19 daerah hukum adat sebagai berikut, Aceh, Gayo Alas dan Batak (Nias dan Batu), Minangkabau (Mentawai), Sumatran Selatan (Enggano), Meliju, Baang, Kalimantan, Sangir-Talaut, Gorontalo, Toraja, Sulawesi Selatan, Ternate, Ambon Maluku (Kepulauan Barat Daya), Papua, Timor, Bali dan Lombok, Jawa Tengah dan Jawa Timur, Surakarta dan Yogyakarta, dan Jawa Barat.

   Di antara suku bangsa di Indonesia yang sangat banyak tersebut, memiliki dasar persamaan sebagai berikut,

   a).     Persamaan kehidupan sosial yang berdasarkan atas asas kekeluargaan,

   b).     Asas-asas yang sama terhadap hak milik tanah,

   c).     Asas-asas yang sama dalam bentuk-bentuk persekutuan masyarakat seperti

            kekerabatan dan adat perkawinan,

   d).     Asas-asas persamaan dalam hukum adat.

 

  1. 3.    Perbedaan Agama

   Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, khususnya pasal 29 ayat (1) dan (2), mengatur kebebasan memeluk agama dan kebebasan beribadah. Mesekipun pemeluk suatu agama menganggap agamanya yang terbaik, mereka harus tetap menghargai dan menghormati agama lain.

 

4. Perbedaan Jenis Kelamin(gender)

      Pada masa sekarang, sejalan dengan perkembangan zaman, tidak sedikit wanita yang mengambil alih fungsi dan pekerjaan kaum laki-laki. Sehingga terjadi diferensiasi sosial, dimana fungsi yang biasa dilakukan oleh laki-laki dilakukan juga oleh wanita.

   Keduanya memiliki peluang yang sama, hanya kemampuan dan keahlian yang sering kali menyebabkan perbedaan antara laki-laki dan wanita dalam hal fungsi dan pekerjaan.

 

 

 

 

 

  1. 5.    Perbedaan Pekerjaan 

   Pekerjaan pada umumnya dilihat sebagai pendukung kehidupan ekonomi rumah tangga. Pekerjaannya seseorang akan mempengaruhi pendapatannya. Di Indonesia kita bisa membedakan dua golongan penduduk dalam hal pendapatan, yaitu mereka yang mempunyai pendapatan tetap dan mereka tidak mempunyai pendapatan tetap.

  

Konflik Sosial

 

Yaitu suatu proses sosial dimana seseorang atau kelompok manusia berusaha memenuhi tujuannya dengan cara menentang pihak lawan disertai dengan ancaman atau kekerasan

 

Faktor/Akar Penyebab Konflik

  1. a.    Perbedaan Individu
  2. Perbedaan Latar Belakang Kebudayaan
  3. c.    Perbedaan Kepentingan
  4. Perubahan-perubahan nilai yang cepat

 

Bentuk-Bentuk Konflik Sosial

  1. a.     Pertentangan pribadi merupakan bentuk pertentangan antarindividu
  2. b.    Pertentangan rasial, terjadi karena perbedaan ciri-ciri fisik yang dapat menyebabkan konflik sehingga disebut konflik antarrasial. Contoh: politik apartheid di Afrika Selatan.
  3. c.     Pertentangan antarkelas sosial, terjadi karena adanya perbedaan kepentingan. Contoh: konflik antara buruh dengan pengusaha.
  4. d.    Pertentangan politik adalah pertentangan dalam sejumlah organisasi politik, antara golongan,   atau organisasi politik masyarakat. Contoh: konflik antara PDIP dengan Golkar.
  5. e.     Pertentangan yang bersifat internasional antara lain pertentangan antarnegara yang menyangkut masalah perbedaan persepsi dan kepentingan. Contoh: konflik Israel dengan Palestina.

Upaya Mengatasi Konflik (Bentuk-Bentuk Akomodasi)

  1. Coercion     : akomodasi secara paksa
  2. Kompromi : akomodasi dengan cara saling mengurangi tuntutan
  3. Arbitrasi : akomodasi melalui pihak ketiga yang ikut menentukan keputusan
  4. Konsiliasi : akomodasi yang mempertemukan pihak yang bertikai dalam perundingan
  5. Toleransi : sikap saling menghargai dan menghormati pendirian masing-masing pihak
  6. Stalemate : pihak-pihak yang bertikai mempunyai kekuatan seimbang ( tidak ada yang kalah dan yang menang ) sehingga konflik akan mereda dengan sendirinya.
  7. Mediasi : akomodasi yang menghadirkan pihak ketiga namun hanya sebagai penasehat
  8. Konversi : menyelesaikan konflik dengan jalan perundingan untuk mencapai kesepakatan
  9. Ajudikasi : penyelesaian konflik melalui pengadilan ( jalur hukum )
  10. Segregasi : upaya untuk saling memisahkan diri dan saling menghindar antar pihak yang bertentangan dalam rangka mengurangi ketegangan
  11. Gencatan senjata : menangguhkan permusuhan
  12. Dispasement : usaha mengakhiri konflik dengan mengalihkan pada obyek masing-masing  

 

Macam Konflik :

  1. Konflik  Konstruktif : konflik yang membangun. Mis: perbedaan pendapat dalam seminar.
  2. Konflik Destruktif : konflik yang merusak.

Akibat Konflik

  1. Mempertebal solidaritas in-group
  2. Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia (kerugian materi).
  3. Terjadi akomodasi ( kedua pihak sama kuat ) dan dominasi ( salah satu pihak lebih kuat )
  4. Persatuan dan kesatuan kelompok akan goyah

      e.   Berubahnya kepribadian individu baik positif maupun negatif ( cara pandang )    

 

Pengaruh Interseksi dan Konsolidasi

a.      Interseksi

: persilangan/ pertemuan/ titik potong keanggotaan dari dua suku bangsa atau lebih dalam kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat majemuk.

                  Interseksi dilakukan melalui beberapa sektor kehidupan :

  1. Hubungan ekonomi : perdagangan dan industrialisasi
  2. Sosial : perkawinan dan pendidikan
  3. Politik : hubungan diplomatik antar negara.

                  Pengaruh positif interseksi :

    1. meningkatkan persatuan dan kesatuan

b.   menumbuhkan sikap terbuka

  1. menambah khasanah budaya bangsa
  2. meningkatkan stabilitas nasional

Pengaruh negatif interseksi :

  1. munculnya persaingan dan konflik
  2. penurunan nilai dan norma

 

            b.     Konsolidasi

      Konsolidasi adalah perbuatan yang memperkuat suatu hubungan yang terjadi pada masyarakat. Konsolidasi berarti penguatan, peneguhan keanggotaan masyarakat dalam kelompok sosial melalui tumpang tindih keanggotaan.

 

Mobilitas Sosial

     

Adalah perpindahan orang atau sekelompok orang dari lapisan sosial yang satu ke lapisan sosial yang lain.

(Mobilitas Geografis : perpindahan seseorang dari satu tempat ke tempat yang lain).

Faktor Penyebab Terjadinya Mobilitas Sosial

a).  Status Sosial

      Setiap manusia dilahirkan dalam status yang dimiliki oleh orang tuanya, yang sering tidak memuaskan.

            b).  Keadaan Ekonomi

Keadaan ekonomi dapat menjadi pendorong mobilitas sosial. Banyak orang yang melakukan migrasi ke daerah lain untuk memperoleh pendapatan ekonomi yang lebih besar.

c).  Situasi Politik

Dapat menjadi penyebab mobilitas sosial. Keadaan politik yang tidak menentu dan mempengaruhi situasi keamanan suatu negara menyebabkan terjadinya mobilitas sosial ke daerah/negara lain yang lebih aman.

            d).  Motif-motif Keagamaan

Dapat menjadi pendorong mobilitas sosial karena adanya kewajiban setiap  orang untuk menyebarkan ajaran agamanya kepada masyarakat atau bangsa lain atau karena kepercayaan bahwa dihadapan Tuhan, manusia mempunyai kedudukan yang sama.

e).  Faktor Kependudukan (demografi)

      Faktor kependudukan biasanya menyebabkan terjadinya mobilitas geografik.

f).  Keinginan Melihat Daerah Lain

 

   Bentuk-Bentuk Mobilitas Sosial

            a).  Mobilitas Sosial Horizontal

 Terjadi apabila ada perubahan kedudukan atau posisi seseorang pada lapisan yang sama. Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa gerakan sosial horizontal merupakan suatu peralihan individu dari satu kelompok sosial kekelompok sosial lainnya yang sederajat.

b).  Mobilitas Sosial Vertikal

Adalah perpindahan seseorang atau kelompok dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat.

Terdapat dua jenis gerak sosial vertikal, yaitu gerak sosial vertikal naik (social climbing atau upwardmobility) dan gerak sosial vertikal turun  (social sinking atau downward mobility).

 

      Mobilitas sosial naik mempunyai dua bentuk utama, yaitu :

  1. masuknya individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi, dan kedudukan tersebut telah ada dalam masyarakat.

b.   Pembentukan suatu kelompok baru, yang kemudian ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi dari kedudukan individu pembentukan kelompok tersebut.

                  Mobilitas sosial turun juga mempunyai dua bentuk utama, yaitu :

  1. Turunnya kedudukan individu ke kedudukan yang lebih rendah
  2. Turunnya derajat sekelompok individu yang dapat berupa suatu disintegrasi dalam kesatuan kelompok.

 

c)     Mobilitas sosial antargenerasi

Mobilitas sosial antar generasi ditandai oleh perkembangan taraf hidup dalam suatu garis keturunan. Mobilitas sosial antargenerasi dibagi menjadi 2 :

  1. a.     mobilitas sosial intergenerasi

: perpindahan status sosial yang terjadi diantara beberapa generasi. Bisa naik, bisa turun.

  1. b.    mobilitas intragenerasi

: perpindahan sosial yang terjadi dalam satu generasi yang sama.

                  (Gambar ?)

                       

Saluran Mobilitas Sosial

Menurut Pitirim A. Sorokin, gerak sosial vertikal mempunyai saluran-saluran dalam masyarkat. Proses gerak sosial melalui saluran itu disebut sirkulasi sosial (social circulation). Saluran-saluran yang terpenting adalah :

  1. 1.     Lembaga Agama
  2. 2.     Sekolah/ Pendidikan
  3. 3.     Perkawinan
  4. 4.     Angkatan Bersenjata
  5. 5.     Organisasi Politik, ekonomi dan keahlian

 

 

 

 

 

Kelompok Sosial

 

Faktor yang mendasari terbentuknya kelompok sosial :

  1. Faktor kepentingan yang sama (common interest)
  2. Faktor darah dan keturunan yang sama
  3. Faktor geografis
  4. Faktor daerah asal yang sama

Bentuk-bentuk kelompok sosial :

  1. Dilihat dari besar atau banyaknya anggota kelompok

a)     Kelompok social yg kecil, misal : keluarga inti atau keluarga batih

b)    Kelompok social yg besar, missal : keluarga luas atau marga, bangsa & Negara

 

  1. Dilihat menurut proses terbentuknya

a)     Kelompok semu atau khalayak ramai.

Proses terbentuknya bersifat sementara,karena terkait oleh kepentingan sesaat dan tidak terorganisir.

Misal : masa atau kerumunan, public atau khalayak ramai

b)    Kelompok nyata atau organisasi social.

Proses terbentuknya nyata, kehadirannya selalu konstan atau tetap & dibentuk

secara terorganisir untuk kepentingan tertentu.

Misal : Asosiasi/perkumpulan, yaitu PGRI, IDI, dll

 

  1. Dilihat erat tidaknya ikatan kelompok (menurut Ferdinand Tonnies)

a)     Paguyuban/Gemeinschaft : kelompok sosial yg memiliki ikatan kebersamaan yg sangat kuat didasari rasa kesetiakawanan sosial dan kegotongroyongan yg sangat kuat, sehingga hampir bersifat irasional & di luar perhitungan untung rugi. Contoh : masyarakat desa, suku di pedalaman, dll.

 

Ciri- ciri :

v  Intimate (hubungan menyeluruh yg akrab sekali)

v  Private (hubungan bersifat pribadi)

v  Exclusive (hubungan tsb hanya untuk anggota kelompoknya & tidak untuk orang di luar kelompoknya)

b)    Patembayan / Gesselschaft: Kelompok sosial  yg didasari oleh perhitungan yg bersifat rasional, misal untung rugi, peningkatan karir, prestasi dan status sosial serta bersifat individualistis, kompetif, & materialistis. Contoh : perkumpulan, partai politik, masyarakat kota besar/Negara/dunia.

 

  1. Menurut Emile Durkheim

a)     Solidaritas mekanik : bentuk solidaritas yang menandai masyarakat yg masih sederhana, kelompok-kelompok manusia tinggal secara tersebar hidup terpisah dengan yang lain. Contoh : masyarakat desa

b)    Solidaritas organic : bentuk solidaritas mengikat masyarakat yang kompleks dan telah mengenal pembagian kerja yg rinci & dipersatukan oleh sikap saling ketergantungan antarbagian. Contoh : masyarakat kota.

 

  1. Kelompok Sosial atas dasar perasaan individu thd kelompok

(menurut Georg Simmel)

a)     Ingroup : Kelompok social di mana individu mengidentifikasikan dirinya.

b)    Outgroup : kelompok social yg berada di luar ingroup.

Kelompok In-group dan out-group mendorong lahirnya sikap “Etnosentrisme”bagi warga in-group yaitu sikap yg menganggap kelompok sendiri lebih hebat, lebih tinggi derajat/budayanya daripada kelompok lain (out-group). Ini  terjadi karena warga in-group menilai kelompok lain dengan ukuran budayanya sendiri. 

 

  1. Kelompok Sosial atas dasar pola hubungan antar anggota

 ( menurut C.H.Cooley)

a)     Primary group / Kelompok Primer : Kelompok sosial kecil & langgeng ditandai dengan ciri-ciri saling mengenal antaranggota  serta kerja sama erat bersifat pribadi, misal : keluarga, kelompok permainan, kerabat, RT/RW, masyarakat desa, dll

b)    Secondary group / Kelompok Sekunder : kelompok sosial besar terdiri dari banyak orang yg tidak saling mengenal & sifatnya tidak begitu langgeng, misal : kontrak jual beli, bangsa, negara, perkumpulan, dll.

 

 

  1. 7.     Klasifikasi kelompok sosial menurut pendapat Merton :

Robert K. Merton membagi kelompok sosial menjadi :

  1. a.     Membership group : kelompok sosial dimana seseorang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut (tercatat secara fisik).
  2. b.    Reference Group : kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang yang bukan anggota kelompok untuk membentuk pribadi dan perilakunya sesuai dengan kelompok acuannya. Misalnya: seorang yang gagal sebagai TNI tetap berperilaku layaknya seorang TNI.

 

 

  1. 8.     Kelompok Sosial tidak teratur
    1. a.     Kerumunan (Crowd) : sejumlah orang yg berkumpul di suatu tempat yg sifatnya sementara & tanpa ikatan apapun.

Crowd tidak memiliki system pembagian kerja  & stratifikasi sosial, interaksi sosial terjadi secara spontan & tak terduga. Mereka memiliki pusat perhatian & kedudukan yg sama serta mudah tersugesti & diprovokasi sehingga mereka beraksi dg penuh emosi sambil melakukan perusakan (amuk massa).

Contoh : kerumunan orang” di terminal bus, stasiun kereta api, penonton sepak bola, dll. Ukurannya adalah kehadiran fisik.

Cara membubarkan :

v  Mengadakan pengalihan perhatian

v  Memecah pendapat umum diantara orang-orang dlm kerumunan

v  Ditakut-takuti dengan gas air mata

Ada 3 Kelompok kerumunan :

1)     Kerumunan yg berartikulasi dg struktural sosial

Terdiri dari penonton/pendengar formal. Di sini ada kesamaan tujuan dan pusat perhatian tetapi sifatnya pasif (penonton film, pendengar pengajian), kelompok ekspresif terencana yg bertujuan untuk menghilangkan ketegangan & menghibur diri (acara pesta/dansa)

2)     Kerumunan bersifat sementara (Casual Crowds) terdiri :

  • Kerumunan yg kurang menyenangkan (Incovenient aggregations).

Contoh : Kerumunan orang yg sdg antre karcis, para penunggu kendaraan.

  • Kerumunan orang” yg panic dlm keadaan karena bahaya

(Panic crowds). Mereka berhiruk pikuk menyelamatkan diri.

  • Kerumunan penonton spontan & tidak direncanakan

(Spectator Crowds). Contoh : para penonton kecelakaan lalu lintas/kebakaran.

3)     Kerumunan berlawanan dg hukum (Lawless Crowds) terdiri :

  • Kerumunan yg bertindak emosional (Acting Mobs).

Mereka beraksi penuh emosi tak terkendali, sering kali bentrok dg petugas atau amuk massa. Contoh : Aksi demonstrasi liar.

  • Kerumunan Immoral (Immoral Crowds)

Hampir sama dg ekspresif, tetapi mereka melanggar norma moral/agama/hukum negara. Contoh : sejumlah orang berpesta minuman keras atau narkoba, sehingga mabuk berat.

 

  1. B.    Pubik : Kelompok orang-orang yg bukan merupakan kesatuan karena jumlahnya amat besar & tak ada pusat perhatian yg tajam. Pola interaksi kepada publik secara tidak langsung tetapi melalui media massa (TV,  radio, film, surat kabar, majalah). Tingkah laku didasarkan atas perilaku individu diprakarsai oleh keinginan-keinginan individual. Contoh : dalam pemilihan umum, untuk memudahkan mengumpulkan publik para pemrakarsa berupaya menggandengkan nilai-nilai social/spiritual atau tradisi masyarakat, missal : melalui pengajian akbar, gerak jalan/bersepeda santai, dll.

 

  1. 8.     Berdasarkan Profesi

Masing-masing kelompok memiliki identitas, penampilan, perilaku, & perlengkapan hidup yg berlainan (ciri khasnya). Misal : kelompok tani, nelayan, pengrajin, pegawai, dokter, seniman, guru, pengusaha, dll.

 

  1. 9.     Berdasar kesatuan wilayah tempat tinggal

Misal : Kelompok RT/RW, masyarakat desa (bercorak paguyuban) & kelompok masyarakat kota & negara  ( bercorak Patembayan) serta kelompok suku yang terikat oleh budayanya.

 

  1. 10.      Berdasarkan Ras & suku bangsa

Ras kaukasoid (kulit putih), Ras mongoloid (kulit kuning) : Cina, Korea & Jepang, Ras Negroid (kulit hitam), Ras Subras Melayu di Asia Tenggara.

Di Indonesia ada 3 kelompok ras : Malayan Mongoloid (kulit sawo matang) merupakan kelompok mayoritas, kelompok Asiatic Mongoloid (keturunan Cina), & kelompok Melanesoid (kulit hitam) yaitu orang Papua/Maluku/NTT Asli.

 Unsur-unsur yg membedakan kelompok-kelompok suku bangsa adalah kesatuan  kebudayaan.

Unsur-unsur suku bangsa terdiri dari bahasa daerah, kesenian daerah, adapt istiadat system kekerabatan, bangunan, pakaian adat, tata cara perkawinan, dll

 

  1. 11.  Berdasarkan ada tidaknya struktur & organisasi yg mengendalikan

a)     Kelompok formal : kelompok yg memiliki struktur & organisasi yg jelas (disebut Birokrasi), pembagian tugas & wewenang , melakukan penyerahan tenaga, memiliki peraturan tertulis, disiplin , loyalitas, aktifitas terus-menerus serta memiliki tujuan yg ingin dicapai.

Contoh : kelompok fomal yaitu birokrasi pemerintah, partai politik, organisasi massa, organisasi profesi, lembaga pendidikan formal.

b)    Kelompok nonformal : kelompok yg tidak memiliki struktur organisasi tertentu & peraturan tertulis serta tidak mempunyai herarki.Contoh : Clique (kelompok kecil tanpa struktur formal yg terbentuk dlm kelompok besar)

 

 

 

 

  1. 13.  Berdasarkan jenis pekerjaan anggota

a)     Kelompok okupasional :kelompok yg terdiri dari orang-orang yg melakukan pekerjaan sejenis. Contoh : Organisasi profesi

b)    Kelompok Volonter : kelompok yg terdiri dari orang-orang yg mempunyai kepentingan sama, namun tidak memperoleh perhatian masyarakat yg semakin luas.

 

 

MASYARAKAT MULTIKULTURAL

 

: masyarakat yang didalamnya memiliki keanekaragaman kelompok dengan karakteristik yang berbeda-beda.

Menurut Nasikun Masyarakat multikultural memiliki karakteristik umum sebagai berikut.:

1)     Adanya sub-sub kebudayaan yang bersifat saling terpisah.

2)     Kurang berkembangnya sistem nilai bersama/ konsensus.

3)     Berkembangnya sistem nilai masing-masing kelompok sosial yang dianut secara relatif rigid dan murni.

4)     Sering muncul konflik sosial (kurang integrasi)

 

Ciri-Ciri Masyarakat Multikultural menurut Pierre van den Berghe:

1)     Terjadi segmentasi ke dalam bentuk kelompok-kelompok yang sering kali memiliki subkebudayaan yang berbeda satu sama lain

2)     Memiliki struktur social yang terbagi-bagi kedalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer

3)     Kurang mengembangkan konsensus diantarpara anggota masyarakat tentang nilai-nilai sosial yanh bersifat mendasar

4)     Relatif sering terjadi konflik diantara kelompok yang ada

5)     Secara relatif integrasi sosial tumbuh diatas paksaan dan saling ketergantungan di bidang ekonimi

6)     Adanya domonasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok lainnya.

Furnival mengklasifikasikan masyarakat multikultural (majemuk) ke dalam empat kategori berdasarkan konfigurasi dan komunitas etniknya, yaitu sebagai berikut.

1)     Masyarakat majemuk dengan kompetisi seimbang adalah masyarakat majemuk yang terbentuk atas beberapa kelompok ataupun etnik yang mempunyai kekuatan kompetitif seimbang. Dalam pembentukan suatu pemerintahan yang stabil sangat dibutuhkan adanya koalisi lintas etnik.

2)     Masyarakat majemuk dengan mayoritas dominan adalah masyarakat majemuk yang terbentuk atas beberapa kelompok ataupun etnik dengan kekuatan kompetitif tidak seimbang dimana salah satu memiliki kekuatan kompetitif yang lebih besar (mayoritas) dan mendominasi kelompok lain.

3)     Masyarakat mejemuk dengan minoritas dominan adalah keadaan dimana dalam suatu masyarakat terdapat suatu kelompok etnik minoritas yang memiliki kekuatan kompetitif unggul sehingga mendominasi dalam kehidupan ekonomi politik masyarakat.

4)     Masyarakat majemuk dengan fragmentasi adalah masyarakat yang terbentuk atas beberapa kelompok serta etnik dimana di dalamnya tidak terjadi dominasi baik dari aspek politik maupun ekonomi karena semua kelompok jumlahnya kecil. Pada masyarakat majemuk dengan fragmentasi pada umumnya stabil walaupun terdapat potensi konflik yang disebabkan rendahnya kemampuan coalition building

 

Sebab Terjadinya Masyarakat Multikultural di Indonesia :

1)             Keadaan geografis

Terpisahnya antara pulau yang satu dengan yang lain di Indonesia melahirkan ragam kebudayaan yang berbeda antar pulau walaupun pada awalnya berasal dari pengaruh kebudayaan yang sama.

2)             Pengaruh kebudayaan asing

Letak Indonesia yang strategis di jalur perdagangan antar benua membuat para pedagang asing singgah ke Indonesia dengan membawa serta pengaruh kebudayaan dari daerah asal mereka, seperti pedagang Cina, India, Arab, dsb.

3)             Kondisi iklim yang berbeda

Perbedaan curah hujan dan tingkat pertanian sawah di wilayah Indonesia berdampak pada perbedaan kependudukan, ekonomi dan social budaya. Terdapat dua lingkungan ekologis yaitu system pertanian sawah dan system pertanian ladang.

 

Dampak Keanekaragaman kelompok sosial dalam masyarakat multikultural :

  1. a.     Konflik

Masyarakat multikultural memiliki potensi konflik di dalamnya. Hal ini dikarenakan adanya nilai, norma, selera, dan persepsi yang beragam dalam masyarakat yang memang beragam. Konflik yang mengancam integrasi bangsa meliputi konflik rasial, konflik antarsuku bangsa dan konflik antar agama.

  1. b.    Disintegrasi (Disorganisasi)

Disorganisasi atau disintegrasi dapat dirumuskan sebagai suatu proses pudarnya norma-norma dan nilai-nilai dalam masyarakat karena terjadinya perubahan lembaga-lembaga kemasyarakatan.

 

 

 

 

Gejala  disorganisasi/disintegrasi yaitu sebagai berikut.

1)     Tidak adanya persamaan pandangan (persepsi) antar anggota masyarakat tentang tujuan yang pada awalnya menjadi pegangan oleh masing-masing anggota masyarakat.

2)     Norma-norma masyarakat tidak dapat berfungsi dengan baik sebagai alat pengendali sosial untuk mencapai tujuan bersama dalam masyarakat.

3)     Tindakan para warga masyarakat sdah tidak sesuai ladi dengan norma-norma masyarakat.

4)     Terjadi pertentangan norma-norma yang ada dalam masyarakat.

5)     Terjadi proses-proses sosial yang bersifat dissosiatif. Misalnya persaingan, tindakan-tindakan controversial seperti menghasut, menfitnah, perang urat saraf, dan sebagainya.

6)     Sanksi yang diberikan kepada pihak-pihak yang melanggar norma tidak dilaksanakan secara konsisten     

c. Primodialisme Serta Berkembangnya Politik Aliran

      Primordialisme diartikan sebagai suatu pandangan atau faham yang menunjukkan sikap berpegang teguh kepada hal-hal yang sejak semula melekat pada diri individu, seperti suku bangsa, ras, agama ataupun asal-usul kedaerahan.     

      Primodialisme adalah adalah sifat yang ingin menonjolkan dan ingin mengagungkan nilai kebudayaan sendiri yang menurut anggapan mereka paling baik dan menganggap nilai kebudayaan lain kurang baik. Primodialisme dalam masyarakat selalu ada dan pasti terjadi, misalnya pada suku bangsa, agama, maupun ras. Primodialisme disebabkan oleh hal-hal berikut :

  1. adanya sesuatu yang dianggap istimewa olehindividu dalam suatu kelompok. Misalnya, ras, suku bangsa, agama atau daerah asalnya.
  2. adanya sikap untuk mempertahankan keutuhan kelompok terhadap ancaman dari luar.
  3. adanya nilai-nilai yang dijunjung tinggi berkaitan dengan sistem keyakinan. Misalnya, nilai-nilai keagamaan, falsafah hidup, dll.

Berdasarkan primodialisme ini lahirlah ethnosentrisme atau fanatisme suku bangsa, yaitu suatu sikap menilai kebudayaan masyarakat lain dengan menggunakan ukuran-ukuran yang berlaku di masyarakatnya. Karena yang dipakai adalah ukuran yang berlaku dimasyarakatnya maka orang akan menganggap kebudayaannya lebih tinggi dari kebudayaan yang lain. Sikap etnosentrisme memang tidak rasional serta emosional dan sentimental.

Politik aliran (sektarian) adalah politik yang mementingkan pendangan atau cara berpikir kelompok tertentu. Politik aliran sangat bertentangan dengan demokrasi. Masyarakat majemuk seperti Indonesia tidak menginginkan politik aliran, karena dapat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa, negara, dan masyarakat Indonesia. Sistem politik di Indonesia adalah demokrasi Pancasila.

 

PERUBAHAN SOSIAL

 

Perubahan Sosial adalah ketidaksesuaian antara unsur-unsur sosial yang berbeda satu sama lain sehingga mengakibatkan suatu pola kehidupan yang tidak serasi fungsinya bagai kehidupan masyarakat.

Masyarakat statis adalah masyarakat yang mengalami perubahan tetapi sangat lambat sehingga hampir tidak menunjukkan adanya perubahan. Sedangkan masyarakat dinamis adalah masyarakat yang terbuka hubungannya dengan masyarakat luas sehingga mengalami perubahan yang relatif cepat.

 

Ciri-ciri perubahan sosial menurut Soerjono Soekanto :

  1. Tidak ada masyarakat yang berhenti berkembang karena setiap masyarakat mengalami perubahan
  2. Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan tertentu akan diikuti pada dengan perubahan pada lembaga sosial lainnya
  3. Perubahan yang cepat biasanya menyebabkan disorganisasi yang bersifat sementara karena berada pada proses penyesuaian diri. Disorganisasi akan diikuti oleh reorganisasi yang menyangkut pemantapan kaidah-kaidah dan nilai-nilai baru.
  4. Perubahan tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau bidang spiritual saja karena keduanya saling berkaitan.

 

Teori Perubahan Sosial :

  1. Teori Linier / Teori Perkembangan

Berpendapat bahwa perkembangan suatu masyarakat merupakan gerak progresif yang berlangsung terus-menerus melaui tahapan yang sama menuju tujuan tertentu (perubahan dapat diarahkan ke suatu titik tertentu). Gambar !

Terdapat 2 Teori Linier :

  1. Teori Evolusi : perubahan yang berlangsung secara lambat. Teori ini meliputi :

1)     Unilinier Theories of Evolution :

Manusia dan masyarakat mengalami perkembangan sesuai tahap-tahap tertentu, dari yang sederhana sampai yang kompleks hingga tahap sempurna.

2)     Universal Theories of Evolution

Perkembangan masyarakat tidak perlu mengalami tahap-tahap tertentu yang tetap. Sehingga tahap evolusi dari suatu masyarakat tidak harus sama dengan masyarakat lainnya.

3)     Multilined Theories of Evolution

Teori ini menekankan pada penelitian terhadap tahap perkembangan tertentu dalam masyarakat.

  1. Teori Revolusi : memandang perubahan sosial yang berlangsung relatif cepat.

 

 

 

  1. Teori Siklus

Berpendapat bahwa perkembangan masyarakat tidak dapat diarahkan ke suatu titik tertentu, tetapi berpola melingkar seperti siklus, perkembangan dan kemunduran berlangsung silih berganti.

 

 

  1. Teori Fungsional

Teori ini memandang bahwa setiap elemen masyarakat memberi fungsi terhadap elemen masyarakat lainnya. Perubahan yang muncul di suatu bagian masyarakat akan menimbulkan perubahan pada bagian lainnya.

  1. Teori Konflik

Perubahan sebagai akibat dari konflik. Karena perubahan disebabkan adanya konflik yang sedang berlangsung. Konflik dalam masyarakatakan berlangsung secara terus menerus, sehingga perubahan juga akan berlangsung terus menerus.

 

Bentuk-bentuk Perubahan Sosial :

  1. Perubahan Evolusi dan Revolusi
  2. Perubahan Regres dan Progres
  3. Perubahan yang berpengaruh kecil dan berpengaruh besar
  4. Perubahan yang Direncanakan (Planned Change)/ Perubahan yang dikehendaki (Intended Change) dan Perubahan yang Tidak Direncanakan (Unplanned Change)/ Perubahan yang Tidak Dikehendaki (Unintended Change)
  1. Perubahan Evolusi : perubahan yang terjadi secara lambat dan dalam waktu yang relatif lama.
  2. Perubahan Revolusi : perubahan mengenai sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat yang berlangsung relatif cepat.
  1. Perubahan Regres : perubahan yang membawa ke arah kemunduran sehingga kurang menguntungkan.
  2. Perubahan Progres : Perubahan ke arah kemajuan sehingga menguntungkan masyarakat
  1. Perubahan yang Berpengaruh Kecil :perubahan yang terjadi pada struktur sosial budaya yang tidak membawa pengaruh yang berarti bagi masyarakat secara keseluruhan
  2. Perubahan yang Berpengaruh Besar : perubahan yang mengakibatkan terjadinya perubahan pada struktur kemasyarakatan
  1. Perubahan yang Direncanakan (Planned Change) / Perubahan yang Dikehendaki (Intended Change)

: Perubahan yang memang dikehendaki/direncanakan oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan (agent of change)

  1. Perubahan yang Tidak Direncanakan (Unplanned Change) / Perubahan yang Tidak Dikehendaki (Unintended Change)

: Perubahan yang terjadi di luar jangkauan masyarakat.

 

Faktor Penyebab Perubahan Sosial :

Menurut Soerjono Soekanto terdapat 2 faktor  penyebab perubahan sosial :

  1. Faktor Intern : faktor yang berasal dari dalam masyarakat
  1. Bertambah atau berkurangnya penduduk
  2. Pemberontakan / Revolusi dalam masyarakat
  3. Konflik dalam masyarakat
  4. Penemuan-penemuan baru

–       Discovery (penemuan primer) : Penemuan unsur kebudayaan baru baik berupa ide, gagasan, atau alat baru oel seorang individu atau sekelompok individu dalam masyarakat.

–       Invention (penemuan sekunder : )

  • Penemuan baru yang disengaja untuk pengembangan dari penemuan yang sebelumnya pernah ada (discavery)
  • Masyarakat sudah mengakui, menerima dan menerapkan penemuan tersebut.

–       Inovasi : pengembangan atau pembaharuan dari invention yang sudah dipakai oleh sebagian besar masyarakat.

 

Faktor-faktor yang mendorong individu melakukan penemuan baru :

  • kesadaran masyarakat akan adanya kekurangan dalam kebudayaannya
  • kualitas para ahli yang meningkat
  • adanya perangsang bagi aktivitas penciptaan dalam masyarakat (penghargaan pada penemuan baru)

 

  1. Faktor ekstern: berasal dari luar masyarakat
    1. Faktor lingkungan alam : kondisi alam yang berubah
    2. Peperangan dengan negara lain
    3. Pengaruh kebudayaan lain : melalui kontak budaya

Proses terjadinya pengaruh budaya lain :

  1. Terjadi dalam hubungan primer : bersifat timbal balik, saling mempengaruhi
  2. Jika kontak budaya melalui sarana komunikasi, maka pengaruh tersebut dari masyarakat yang menguasai alat komunikasi massa.
  3. Jika dua masyarakat dengan taraf kebudayaan yang sama mengalami kontak budaya terjadi cultural animosity, yaitu keadaan dimana dua masyarakat yang memiliki kebudayaan seimbang saling menolak pengaruh satu dengan yang lain
  4. Jika dua unsur kebudayaan bertemu dan salah satuinya mempunyai taraf yang lebih tinggi, maka terjadi proses imitasi (peniruan).

 

Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial

  1. a.     Faktor Pendorong Perubahan Sosial
  • Menurut Margono Slamet:
  1. a.  Ketidakpuasan terhadap situasi yang ada

b. Adanya pengetahuan tentang perbedaan antara apa yang ada dan yang saharusnya ada.

  1. c.  Adanya tekanan dari luar
  2.  Kebutuhan dari dalam untuk mencapai efisiensi
  • Menurut David M.C.Clelland

Perubahan yang terjadi dalam masyarakat disebabkan adanya viris n-Ach (need for achievement), yaitu adanya hasrat untuk meraih prestasi.

  • Menurut Soerjono Soekanto :

–       Sistem pendidikan yang maju

–       Sikap menghargai hasil karya orang lain

–       Adanya kontak dengan kebudayaan lain

–       System pelapisan social terbuka (open stratification)

–       Penduduk yang heterogen

–       Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang tertentu

–       Toleransi terhadap perbuatan menyimpang

–       Orientasi ke masa depan

–       Sikap mudah menerima hal-hal baru

 

  1. b.    Faktor Penghambat Perubahan Sosial
    1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain
    2. Pendidikan yang masih terbelakang
    3. Masyarakat yang bersifat tradisional
    4. Vested interest (adanya keinginan-keinginan yang tertanam kuat)
    5. Rasa takut terjadi kegoyahan pada integrasi kebudayaan
    6. Prejudice (prasangka terhadap hal-hal yang baru)
    7. Hambatan ideologis
    8. Adat/ kebiasaan dalam masyarakat
    9. Sikap pasrah (menunggu takdir)

 

Proses Perubahan Sosial

  1. Difusi : proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari satu individu ke individu lain, dari satu golongan ke golongan lain, atau dari satu masyarakat ke masyarakat lain.

Macam difusi :

–       Difusi intra masyarakat : proses penyebaran kebudayaan dalam suatu masyarakat

–       Difusi antar masyarakat : proses penyebaran unsur kebudayaan dari satu masyarakat ke masyarakat lain

  1. Akulturasi
  2. Asimilasi
  3. Akomodasi

 

Proses mempelajari kebudayaan :

  • Proses Internalisasi : proses mendarahdagingnya norma, nilai, kebiasaan maupun kebudayaan yang ada dalam masyarakat ke dalam kepribadian tiap tiap individu sebagai anggota masyarakat.
  • Proses Sosialisasi : proses belajar seorang individu sebagai anggota masyarakat.
  • Proses Enkulturasi : proses dimana seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adapt-istiadat, system norma dan peraturan-peraturan yang hidup dalam masyarakat.

 

Setiap anggota masyarakat pasti menginginkan terciptanya ‘social equilibrium’, yaitu suatu keadaan dimana suatu masyarakat tercipta keserasian dan keharmonisan. Tetapi adanya perubahan social sering menyebabkan munculnya ketidakseimbangan (disequilibrium). Dalam kondisi demikian kemungkinan yang terjadi :

–       Adanya penyesuaian (adjustment) : kondisi dimana keserasian dalam masyarakat dapat dipulihkan kembali setelah berlangsungnya suatu perubahan.

–       Adanya ketidaksesuaian (Maladjustment) : ketidakmampuan melakukan penyesuaian setelah terjadi perubahan. Kondisi demikian dapat mengakibatkan terjadinya Anomie : keadaan dimana tidak ada pegangan terhadap apa yang baik dan apa yang buruk sehingga anggota masyarakat tidak mampu mengukur tindakan-tindakannya karena tidak ada batasan yang jelas.

 

Dampak Perubahan Sosial

  1. Modernisasi

: proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-cara baru yang lebih maju untuk meningkatkan kesejahteraan hid :up masyarakat.

Dampak Positif modernisasi :

  • Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
  • Perkembangan industri
  • Etos kerja yang tinggi, tidak mudah menyerah dan berorientasi ke masa depan.

 

 

 

Dampak negatif modernisasi

  • Konsumerisme : suatu paham / gaya hidup yang menganggap barang-barang mewah sebagai ukuran kebahagiaan.
  • Kesenjangan social-ekonomi
  • Pencemaran lingkungan
  • Kriminalitas

Secara umum terdapat dua bentuk kejahatan / tidakan criminal :

–       White collar crime (kejahatan kerah putih) : kejahatan yang dilakukan oleh penguasa/pejabat atau pengusaha dalam menjalankan peran-peran sosialnya

–       Blue collar crime (kejahatan kerah biru) : kejahatan yang dilakukan oleh orang dalam keadaan ekonomi lemah/ kurang mampu.

  • Kenakalan remaja (Juvenile Deliquency)

 

2.   Globalisasi

: Sistem/ tatanan dimana batas-batas Negara luluh dan tidak penting lagi dalam kehidupan social yang menyebabkan Negara/ seseorang bebas berhubungan dengan Negara/ orang lain dimanapun tanpa batas, sebagai akibat kemajuan teknologi dan komunikasi.

 

Dampak positif globalisasi :

  • masyarakat kritis terhadap permasalahan actual yang menyangkut masalah budaya
  • memperkaya unsur-unsur budaya Indonesia
  • wawasan masyarakat semakin luas
  • perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melahirkan berbagai industri

     Dampak negatif globalisasi :

  • Guncangan budaya (cultural shock)

: ketidaksesuaian unsur yang saling berbeda sehingga menghasilkan pola kehidupan social  yang tidak serasi fungsinya bagi masyarakat.

  • Ketertinggalan budaya (cultural lag)

Kondisi dimana unsur kemasyarakatan dan unsur budaya yang ada tidak mengalami perubahan yang sama cepatnya.

  • Konsumerisme
  • Westernisasi (kebarat-baratan) : proses peniruan kebudayaan negara-negara baratyang dianggap lebih baik dari pada kebudayaan sendiri.
  • Sekularisasi : proses pemisahan antara nilai-nilai keagamaan dengan nilai-nilai duniawi.
  • Hedonisme : paham yang memandang bahwa kesenangan dan kenikmatan hidup menjadi tujuan dan tindakan manusia.

 

LEMBAGA SOSIAL

 

: Kumpulan norma / tata kelakuan untuk mengatur perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

 

Unsur penting yang terkandung dalam pengertian lembaga sosial, yaitu :

  1. Lembaga sosial berkaitan dengan kebutuhan pokok manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
  2. Lembaga sosial merupakan oranisasi yang relatif tetap.
  3. Lembaga sosial merupakan suatu organisasi yang tersusun atau terstruktur.
  4. Lembaga sosial merupakan cara bertindak yang mengikat.

 

Ciri-ciri Lembaga Sosial

Ciri-ciri umum lembaga sosial menurut Gillin dan Gillin adalah :

  1. Suatu lembaga merupakan organisasi pola pemikiran dan perilaku yang tersusun dan teratur.
  2. Lembaga sosial mempunyai suatu tingkat kekekalan tertentu.
  3. Suatu lembaga mempunyai satu atau beberapa tujuan.
  4. Lembaga mempunyai alat-alat perlengkapan yang diperlukan untuk mencapai tujuanya.
  5. Suatu lembaga sosial biasanya memiliki lambang.
  6. Suatu lembaga sosial mempunyai suatu tradisi tertulis ataupun yang tidak tertulis.
  7. Lembaga sosial mencakup kebutuhan basic atau dasar.
  8. Lembaga sosial merupakan suatu cara (bertindak) yang mengikat.

 

Tipe-tipe Lembaga Sosial

Menurut Gillin dan Gillin, tipe lembaga sosial dapat dikasifikasikan sebagai berikut :

  1. 1.    Dari Sudut Pandang Perkembanganya
    1. Cresive intitutions, yaitu lembaga sosial yang secara alamiah ( tidak sengaja) tumbuh dari adat istiadat masyarakat. Contoh perkawinan, agama, lembaga hak milik dan sebagainya.
    2. Enacted institutions, yaitu lembaga sosial yang sengaja dibentuk untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Misalnya lembaga utang piutang dan lembaga pendidikan. 
    3. 2.    Dari Sudut Sistem Nilai-nilai yang Diterima oleh Masyarakat
      1. Basic instutiona, yaitu lembaga sosial yang penting untuk memelihara dan dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat. Misalnya lembaga keluarga, sekolah, negara dan sebagainya.
      2. Subsidiary instutions, yaitu lembaga sosial yang berkaitan dengan hal yang dianggap kurang penting. Misalnya rekreasi.

 

  1. 3.    Dari Sudut Penerima Masyarakat
    1. Approved atau sanctioned institutions, yaitu pranata sosial yang diterima masyarakat. Contohnya pranata sekolah dan perusahaan dagang.
    2. Unsanctioned institutions, yaitu lembaga sosial yang ditolak masyarakat. Misalnya sindikat kejahatan, pelacuran, dan perjudian. 
    3. 4.    Dari Sudut Penyebaranya
      1. General institutions, yaitu lembaga sosial yang dikenal oleh sebagian masyarakat dunia. Misalnya lembaga agama, lembaga hak asasi manusia, dan sebagainya.
      2. Restricted institutions, yaitu lembaga sosial yang hanya dikenal oleh masyarakat tertentu. Misalnya pranata agama Islam, Kristen, Protestan, Hindu, dan Budha.
      3. 5.    Dipandang dari Sudut Fungsinya
        1. Operative institutions, yaitu lembaga sosial yang berfungsi menghimpun pola-pola atau cara-cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan dari masyarakat yang bersangkutan. Misalnya lembaga industri.
        2. Regulative institutions, yaitu lembaga sosial yang bertujuan untuk mengawasi adat istiadat atau tata kelakuan yang ada dalam masyarakat. Misalnya pranat-pranata hukum, seperti kejaksaan, pengadilan, dan sebagainya.

 

Peran Fungsi Lembaga Sosial

Secara umum, lembaga sosial memiliki fungsi sebagai berikut :

  1. Fungsi manifes ( nyata ), yaitu fungsi lembaga sosial yang disadari dan menjadi harapan banyak orang.
  2. Fungsi laten, yaitu fungsi lembaga sosial yang tidak disadari dan bukan menjadi tujuan utama banyak orang.

 

Lembaga sosial sebagai tempat memenuhi kebutuhan manusia mempunyai fungsi sebagai berikut :

  1. Memberiakan pedoman kepada anggota masyarakat tentang bagaimana mereka harus bertingkah laku atau bersikap dalam menghadapi masalah dalam masyarakat.
  2. Memberikan pegangan terhadap anggota masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial ( social control ), yaitu sistem pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku para anggotanya.
  3. Menjaga keutuhan masyarakat yang bersangkutan.

Jenis-jenis Lembaga Sosial

1. Lembaga Keluarga

a.Pengertian

Keluarga sebagai kelompok terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak.

 

  1. Macam-macam keluarga

Terbentuknya keluarga baru menurut Goode dapat dibedakan menjadi :

1)     Keluarga inti ( nuclear family )

Keluarga ini adalah kelompok yang terdiri dari suami (ayah), istri (ibu), dan anak yang belum menikah.

2)     Keluarga inti tanpa anak

Keluarga inti tanpa anak adalah sekelompok sosial yang terdiri dari suami dan istri saja tanpa anak.

3)     Keluarga besar atau luas ( extended familiy )

Keluarga besar adalah satuan keluarga lebih dari satu generasi atau terdiri lebih dari satu keluarga inti. Susunan keluarga luas dapat ditentukan oleh sistem kekerabatan yang dianut oleh masyarakat yang bersangkutan.

 

  1. Ciri-ciri keluarga

Ciri-ciri keluarga menurut Mac Iver dan Charles B. Horton adalah sebagai berikut :

1)     Keluarga terbentuk melalui perkawinan.

2)     Keluarga berbentuk lembaga yang berkaitan dengan hubungan perkawinan yang sengaja dibentuk atau dipelihara.

3)     Keluarga mempunyai suatu sistem tata krama, (nomenklatur) yaitu garis keturunan.

4)     Keluarga mempunyai fungsi ekonomi yang dibentuk oleh anggota-anggotanya dan berkemampuan untuk mempunyai keturunan serta membesarkan anak.

5)     Keluarga mempunyai tempat tinggal bersama atau rumah tangga.

 

  1. Proses terbentuknya keluarga

Suatu keluarga terbentuk melalui proses perkawinan.

1)     Tahap-tahap perkawinan

a).   Tahap formatif atau pre-nuptual

b).   Tahap perkawinan atau nuptual stage

c).   Tahap pemeliharaan anak atau child rearing stage

d).   Tahap keluarga dewasa atau maturity stage

 

 

 

 

 

 

2)    Bentuk-bentuk perkawinan

a).   Monogami, yaitu ikatan perkawinan antara seorang laki-laki dengan seorang wanita.

b).   Poliandri, yaitu perkawinan yang terjadi antara seorang wanita dengan beberapa lelaki.

c).   Poligini, yaitu perkawinan yang terjadi antara seorang laki-laki dengan beberapa wanita. Apabila para istri adalah  saudara, maka disebut poligini sororal, sedangan apabila istri bukan orang-orang yang bersaudara, maka disebut poligini nonsororal.

d).   Group marriage atau perkawinan kelompok, yaitu suatu bentuk perkawinan antara beberapa lelaki dengan beberapa wanita sekaligus.

 

Apabila dilihat dari asal suami atau istri dikenal beberapa bentuk perkawinan yaitu :

a).   Eksogami, yaitu perkawinan antara seseorang dengan orang yang berasal dari luar lingkungannya, baik dari luar etnik, sosial maupun bangsa.

b).   Endogami, yaitu perkawinan antara seseorang dengan orang yang berasal dari dalam lingkungannya. Misalnya berasal dari satu etnik, satu ras, satu klan, kasta, dan sebagainya.

c).   Homogami, yaitu perkawinan antara orang yang berasal dari satu lapisan sosial atau ekonomi yang sama. Misalnya seorang laki-laki dari lapisan menengah menikah dengan seorang wanita dari kelas menengah yang sama.

d).   Heterogami, yaitu perkawinan antara seseorang yang berasal dari lapisan sosial atau ekonomi yang berbeda.

 

 

Fungsi Lembaga Keluarga :

  1. Fungsi Nyata / Manifes :
    1. Fungsi Reproduksi : melanjutkan keturunan
    2. Fungsi Edukatif dan sosialisasi : berperan dalam pembentukan kepribadian anak
    3. Fungsi kekerabatan
    4. Fungsi Afeksi : kasih saying
    5. Fungsi Laten / Tersembunyi:
      1. Fungsi Ekonomi : mengatur masalah ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup
      2. Fungsi pengendalian social
      3. Fungsi pewarisan gelar (status)
      4. Fungsi priteksi / perlindungan
      5. Fungsi Religius
      6. Fungsi Rekreatif : menciptakan suasana akrab, ramah, hangat antar anggota keluarga

 

2. Lembaga Ekonomi

Lembaga ekonomi merupakan lambaga sosial yang manangani masalah kesejahteraan material, yaitu mengatur kegiatan atau cara-cara berproduksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa yang diperlukan bagi kalangsungan hidup masyarakat.

 

a      Kegiatan dalam lembaga ekonomi

Lembaga ekonomi antara lain mengatur kegiatan berikut :

1)     Pengaturan kegiatan produksi

a).   Berburu dan meramu (hunting dan gathering)

b).   Bercocok tanam ladang

Bercocok tanam di ladang merupakan bentuk cocok tanam tanpa irigasi, biasanya disebut berladang atau pertanian kering.

c).   Bercocok tanam di sawah

Bercocok tanam di sawah lebih maju daripada berladang. Dalam kegiatan produksi ini orang telah menetap dan menggunakan irigasi maupun pengolahan tanah.

d).   Beternak

e).   Perikanan

f).    Industri

Industri merupakan bentuk kegiatan produksi barang dan jasa yang menggunakan teknologi baik mekanik maupun kimiawi dan organisasi sosial yang menekankan pada efisiensi dan efektifitas produksi. 

 

2)     Pengaturan kegiatan distribusi (menyalurkan barang dan jasa dari produsen ke konsumen)

Kegiatan distribusi barang dan jasa terdiri atas tiga cara, yaitu:

a).   Resiprositas (timbal-balik), yaitu pertukaran barang dan jasa yang kira-kira sama nilainya antara dua pihak. Resiprositas dibedakan menjadi tiga jenis yaitu :

(1)   Resiprositas umum

(2)   Resiprositas berimbang

(3)   Mekanisme pemerataan

b).   Redistribusi, yaitu bentuk pertukaran barang yang masuk ke suatu tempat.

c).   Pertukaran pasar, yaitu pertukaran atau perpindahan barang dari perpindahan barang dari pemilik yang satu ke pemilik yang lain. 

 

 

 

 

 

 

3)     Pengaturan kegiatan konsumsi

Kegiatan konsumsi adalah kegiatan masyarakat dalam memakai, memanfaatkan atau menggunakan barang dan berbagai jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan demi kelangsungan hidupnya. 

 

Fungsi lembaga ekonomi

  1. Fungsi Manifes / Nyata : mengatur masalah produksi, distribusi dan konsumsi.
  2. Fungsi Laten / Tersembunyi : terjadi kerusakan lingkungan, mengubah pola penggunaan waktu anggota masyarakat.

 

      Ciri negatif yang tidak ada dalam demokrasi ekonomi Pancasila :

  1. Sistem free fight liberalism (sistem persaingan bebas)
  2. Sistem etatisme. ekonomi dikuasai negara ): negara dan aparatur negara mendesak dan mematikan potensi serta daya kreasi unit-unit diluar sektor negara.
  3. Monopoli : pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok yang merugikan masyarakat

 

  1. Lembaga Pendidikan

Pendidikan merupakan usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah.

 

Lingkungan pendidikan

Menurut Ki hajar dewantara dikenal adanya tiga lingkungan pendidikan,  yaitu pendidikan keluarga (informal), sekolah ( formal ), dan lingkungan di luar sekolah ( nonformal )

  1. Lingkungan pendidikan keluarga ( informal )

Merupakan bentuk yang sebenarnya dari konsep pendidikan seumur hidup. Ciri-cirinya :

a).   Proses pendidikan dapat berlangsung tidak terikat oleh waktu dan tepat.

b).   Proses dapat berlangsung tanpa adanya guru dan murid, tetapi berlangsung antara anggota keluarga.

c).   Tidak mengenal persyaratan usia.

d).   Tidak mengunakan metode tertentu yang dikenal dalam dunia pendidikan

e).   Proses pendidikan tanpa kurikulum tertentu. 

 

  1. Lingkungan  pendidikan sekolah ( formal )

Sekolah merupakan pusat pendidikan formal dan perangkat masyarakat yang diserahi pendidikan.

 

Beberapa ciri / karakteristik pendidikan sekolah antara lain :

  1. Kegiatan belajar diselenggarakan di dalam kelas atau ruangan tertutup atau terpisah dari pergaulan masyarakat pada umumnya.
  2. Ada syarat usia dan pengelompokan usia dalam kelas atau jenjang tertentu.
  3. Ada perbedaan tugas yang tegas antara guru dengan murid.
  4. Materi pelajaran disusun dalam kurikulum dan diajaarkan dalam silabus.
  5. Materi pelajaran lebih banyak bersifat akademis intelektualis dan berkelanjutan.

 

  1. Lingkungan pendidikan luar sekolah / masyarakat  (nonformal)

Persoalan baru dalam keluarga dan sekolah mendorong munculnya pendidikan di luar sekolah. Beberapa ciri pendidikan nonformal antara lain :

  1. Program kegiatanya disesuaikan dengan tuntutan pemenuhan kebutuhan warga belajar yang sifatnya mendesak.
  2. Materi pelajaran bersifat praktis pragmatis dengan maksud dapat segera dimanfaatkan.
  3. Waktu belajarnya singkat, dalam arti dapat diselesaikan dengan cepat.
  4. Tidak memakan biaya yang banyak.
  5. Masalah usia tidak begitu dipersoalkan.

 

  1. Fungsi Lembaga Pendidikan

Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt fungsi pendidikan dibagi menjadi dua bagian, yaitu fungsi manifes dan fungsi laten.

1)     Fungsi manifes pendidikan / Fungsi Nyata

  1. membantu mencari nafkah bagi kehidupan kelak
  2. mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki
  3. melestarikan kebudayaan
  4. mengembangkan kemampuan berfikir dan berbicara secara rasional
  5. meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri
  6. menciptakan warga negara yang patriotik
  7. menunjang integrasi antar ras yang berbeda
  8. membentuk kepribadian anak

 

2)     Fungsi laten pendidikan / Fungsi Tersembunyi :

  1. menunda kedewasaan anak
  2. menjadi saluran mobilitas sosial
  3. memelihara integrasi dalam masyarakat

 

 

  1. 4.    Lembaga Politik

Politik : cara-cara tuk memperoleh, mempertahankan dan mengatur kekuasaan.

Tujuan lembaga politik adalah mengatur dan menjaga keamanan dan ketertiban serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.

 

Fungsi Lembaga Politik :

Fungsi Manifes :

  1. memelihara ketertiban wilayah
  2. menjaga keamanan dari ancaman pihak lain
  3. melaksanakan kesejahteraan umum
  4. melembagakan norma menjadi  Undang-Undang melalui badan legislatif
  5. melaksanakan Undang-Undang yang telah disahkan
  6. meyelesaikan konflik yang terjadi antar warga masyarakat

       Fungsi Laten :

  1. membuat stratifikasi sosial
  2. sebagai saluran mobilitas sosial